Jumat, 17 Juni 2016

CONTOH PROPOSAL PTK IPS EKONOMI SMP dan MTS

CONTOH PROPOSAL PTK IPS EKONOMI SMP dan MTS-Halo pembaca! blog Asri Yulian pada kesempatan kali ini  kami suguhkan kepada guru yang membutuhkan contoh proposal PTK Ekonomi IPS. Contoh proposal PTK adalah  bahan yang digunakan untuk pembanding penelitian yang anda lakukan. Jika anda ingin mendapatkan Contoh Proposal PTK IPS Ekonomi SMP. Anda bisa memesan kepada kami melalui situs kami.


Masalah terbesar dalam pembuatan PTK adalah kurangnya guru dalam menghargai kualitas dan bukan sekedar kuantitas. Masa-masa di mana anda melakukan penelitian tindakan kelas. Proposal PTK IPS MTS diperlukan pertama kali sebagai acuan kerangka dasar penelitan tindakan kelas smp yang akan anda susun.


Pada umumnya seorang guru yang membuat proposal PTK mempunyai kelemahan dalam mendapatkan referensi-referensi yang berkaitan dengan penelitian. Padahal intinya Proposal penelitian tindakan kelas haruslah dibuat disesuaikan dengan kebutuhan kelas agar anak didik anda bisa menjadi lebih baik bukan berdasarkan materi yang anda kejar.


Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas Mapel IPS Ekonomi SMP yang diberi judul “Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Group  Investigation (Gi) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajarann IPS Ekonomi Pada Siswa Kelas Vii Smp , untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam kenaikan tingkat dari IV a ke IV b. Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan file PTK IPS  Kelas 7 SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-42-444-991 dengan Format PESAN PTK 03 SMP).


Proposal PTK IPS SMP


ABSTRAK


Islamiyatun Ika Agustina, Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 16 Surakarta Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desember 2006. Contoh PTK IPS Ekonomi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan: (1) Keaktifan siswa secara keseluruhan siswa kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006, (2) Hasil belajar siswa kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta.

Metodologi penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII E SMP  Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006, sejumlah 40 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui kegiatan berupa: (a) observasi keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung; (b) wawancara kepada siswa; (c) ulangan harian. Prosedur pelaksanaan tindakan meliputi: (a) perencanaan tindakan; (b) pelaksanaan tindakan; (c) observasi; (d) analisis dan refleksi. PTK IPS MTS.

Hasil penelitian tindakan kelas IPS SMP mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan sebelum penerapan metode GI, yaitu pada aspek semangat dalam KBM pada siklus I yaitu indikator BS= 5%; B= 70%; C= 22,5%; K= 2,5% dan pada siklus II indikator BS= 17,5%; B= 67,5%; C= 15%. Pada pengukuran aspek kerjasama antar siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I indikator B= 22,5%; C= 70%; K= 7,5% dan pada siklus II indikator BS= 2,5%; B= 32,5%; C= 60%; K= 5%. Pengukuran aspek mengeluarkan pendapat untuk memecahkan masalah mengalami peningkatan yaitu pada siklus I indikator B= 20%; C= 47,5%; K= 32,5% dan pada siklus II indikator BS= 7,5%; B= 22,5%; C= 57,5%; K= 12,5%. Pengukuran aspek memberikan pertanyaan juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I indikator BS= 2,5%; B= 5%; C= 67,5%; K= 15% dan pada siklus II indikator BS= 7,5%; B= 22,5%; C= 57,5%; K= 12,5%. Rata-rata ulangan harian siswa siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 1,05 (siklus I= 6,31; siklus II= 7,36). Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa.


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah serta ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS VII SMP .......”

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada: Contoh Proposal PTK Ekonomi

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, atas ijin penulisan skipsi ini.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, atas ijin penulisan skipsi ini.
3. Ketua Program Pendidikan Tata Niaga  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, atas disetujuinya penulisan skripsi ini.
4. Prof. Dr. H. Soetarno, M.Pd dan Dra Mintasih Indriayu, M.Pd selaku Pembimbing Utama dan Pembimbing Pendamping yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan skripsi ini.
5. Kepala Sekolah SMP Negeri 16 Surakarta, yang telah memberi ijin untuk mengadakan penelitian.
6. Ibu Tri Wahyuni selaku guru mata pelajaran Ekonomi SMP Negeri 16 Surakarta, yang telah membantu kelancaran penelitian tindakan kelas (PTK).
7. Siswa-siswi kelas VII E SMP Negeri ...  yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.
8. Teman-teman PTN angkatan 2002 (teristimewa untuk Ismi, Triman, Wahyu, Nanik, Deta dan Rini) atas segala dukungan dan persahabatan yang indah.
9. Anak-anak Indah Sari (Tya, Intan, Sari, Frida, Ana, Anita, Vika) yang senantiasa memberikan keceriaan hari-hariku.
10. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Semoga skripsi ini tetap dapat memberikan manfaatnya.


Surakarta,     Desember 2006

Penulis


Contoh Proposal PTK IPS Ekonomi


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran yang efektif dan efisien dalam pembuatan PTK Ekonomi SMP. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum. 

Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan idealnya harus mampu melakukan proses edukasi, sosialisasi, dan transformasi. Dengan kata lain, sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu berperan sebagai proses edukasi (proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik dan mengajar), proses sosialisasi (proses bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wadah proses transformasi (proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik / lebih maju). Contoh Proposal PTK MTS.

Masalah proses belajar mengajar pada umumnya terjadi di kelas, kelas dalam hal ini dapat berarti segala kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di suatu ruangan dalam melaksanakan KBM. PTK Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas berarti luas, mencakup interaksi guru dan siswa, teknik dan strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta evaluasinya. (Kasihani Kasbolah E.S, 2001 hal: 1)

Proses pembelajaran melalui interaksi guru dan siswa, siswa dan siswa, dan siswa dengan guru, secara tidak langsung menyangkut berbagai komponen lain yang saling terkait menjadi satu sistem yang utuh. Perolehan hasil belajar sangat ditentukan oleh baik tidaknya kegiatan dan pembelajaran selama program pendidikan dilaksanankan di kelas yang pada kenyataannya tidak pernah lepas dari masalah.   

SMP Negeri kelas 7 merupakan salah satu sekolah negeri yang mempunyai input atau masukan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi. Karena prestasi belajar yang bervariasi inilah maka peran serta dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar beraneka ragam. Pada tahun pelajaran 2005/2006 batas terendah Nilai Ebtanas Murni (NEM) masuk SMP Negeri adalah 32,00. Sedang batas tuntas nilai IPS SMP Negeri untuk tahun pelajaran 2005/2006 adalah 6,00.

Menurut hasil pengamatan yang dilakukan peneliti melalui observasi kelas dan wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi kelas VII( ) semester genap di SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006 menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal, yakni rata-rata nilai ulangan harian ekonomi pokok bahasan Prinsip dan Motif Ekonomi  yaitu sebesar 5,85. Asumsi dasar yang menyebabkan pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal adalah pemilihan metode pembelajaran dan kurangnya peran serta (keaktifan) siswa dalam KBM. Pada tahun ajaran 2005/2006 SMP Negeri 16 Surakarta sudah mempergunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, namun pelaksanaannya belum optimal. Metode mengajar guru masih secara konvensional. Proses belajar mengajar ekonomi masih terfokus pada guru dan kurang terfokus pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran, contoh proposal PTK IPS SMP. Metode pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Peran serta siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan diskriminasi dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang aktif dalam KBM cenderung lebih aktif dalam bertanya dan menggali informasi dari guru maupun sumber belajar yang lain sehingga cenderung memiliki pencapaian kompetensi belajar yang lebih tinggi. Sedangkan siswa yang kurang aktif cenderung pasif dalam KBM, hanya menerima pengetahuan yang datang padanya sehingga memiliki pencapaian kompetensi yang lebih rendah.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Selain itu, melalui pemilihan metode pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru tetapi juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama mata pelajaran ekonomi pada contoh proposal PTK. 

Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Dalam metode pembelajaran kooperatif lebih menitik beratkan pada proses belajar pada kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu bersama kelompok. Contoh laporan PTK IPS SMP Proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemui pada metode konvensional. 

Dengan pembelajaran kooperatif peserta didik akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Agar pembelajaran kooperatif dapat terlaksana dengan baik, peserta didik harus bekerja dengan lembar kerja yang berisi pertanyaan dan tugas yang telah direncanakan. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu sesama teman.

Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mencoba mengkaji keefektifan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dalam proses pembalajaran. Group Investigation adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.

Pusat dari investigasi kelompok adalah perencanaan kooperatif murid dalam menyelidiki. Anggota kelompok mengambil peran dalam menentukan apa yang akan mereka selidiki, siapa yang akan mengerjakan dan bagaimana mereka mempresentasikan hasil secara keseluruhan di depan kelas. Kelompok pada pembelajaran berbasis investigasi kelompok ini merupakan kelompok yang heterogen baik dari jenis kelamin maupun kemampuannya. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Di dalam kelompok tersebut, setiap siswa dalam kelompok mengejakan apa yang telah menjadi tugasnya dalam lembar kerja kegiatan secara mandiri yang telah disiapkan dan teman sekelompoknya bertanggungjawab untuk saling memberi kontribusi, saling tukar-menukar dan mengumpulkan ide. Setelah itu anggota kelompok merencanakan apa yang akan dilaporkan dan bagaimana membuat presentasinya. Langkah terakhir dalam kegiatan ini, salah satu anggota kelompok mengkoordinasikan rencana yang akan dipresentasikan di depan kelompok yang lebih besar. Contoh penelitian tindakan kelas MTS.

Teknik presentasi dilakukan di depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi, sedangkan kelompok yang lain menunggu giliran untuk mempresentasikan, mengevaluasi dan memberi tanggapan dari topik yang tengah dipresentasikan. Peran guru dalam GI adalah sebagai sumber dan fasilitator. Di samping itu guru juga memperhatikan dan memeriksa setiap kelompok bahwa mereka mampu mengatur pekerjaannya dan membantu setiap permasalahan yang dihadapi di dalam interaksi kelompok tersebut. Pada akhir kegiatan, guru menyimpulkan dari masing-masing kegiatan kelompok dalam bentuk rangkuman. 
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: “KEEFEKTIFAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI ...................”

B.  Identifikasi Masalah PTK IPS

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Proses belajar mengajar masih terfokus pada guru belum terfokus pada siswa.
2. Prestasi belajar ekonomi siswa sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan.
3. Peran serta dan keaktifan siswa dalam KBM khususnya di kelas VII SMP Negeri belum menyeluruh sehingga prestasi belajar kurang optimal.
4. Implementasi kurikulum berbasis kompetensi membutuhkan penerapan metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa secara keseluruhan.

C.  Pembatasan Masalah PTK Ekonomi

Sehubungan dengan luasnya permasalahan yang timbul dari topik kajian maka pembatasan masalah perlu dilakukan guna memperoleh kedalaman kajian untuk menghindari perluasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam hal ini adalah:
1.  Subjek Penelitian
Siswa kelas VII( ) semester genap SMP Negeri .

2.  Objek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah:
a. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI).
b. Kompetensi siswa yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
c. Materi pokok yang digunakan adalah: Kegiatan Pokok Ekonomi.
d. Kompetensi yang ingin dicapai adalah: Kemampuan menganalisis kegiatan pokok ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

D.  Perumusan Masalah Penelitian tindakan kelas

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) efektif dalam meningkatkan kompetensi belajar siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006?
2. Apakah metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan peran serta siswa secara keseluruhan?

E.  Tujuan Penelitian PTK

Melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Keefektifan penggunaan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) terhadap peningkatan kompetensi belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi kelas VII semester genap SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006.
2. Peningkatan peran serta siswa secara keseluruhan dalam pembelajaran ekonomi.

F.  Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Inovasi kepada dunia pendidikan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
2. Informasi kepada guru dan tenaga pengajar mengenai manfaat pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dalam meningkatkan peran serta siswa.
3. Sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran ekonomi.


Penelitian Tindakan Kelas IPS EKONOMI MTS

BAB II

KAJIAN PUSTAKA


 A. Kajian Teori

1. Efektivitas Pengajaran

Menurut Margono (1995:3) efektif berarti semua potensi dapat dimanfaatkan dan semua tujuan dapat dicapai. Sedangkan menurut Roestiyah N.K. (1991:12) efektif menunjuk pada sesuatu yang mampu memberikan dorongan atau bantuan dalam mencapai suatu tujuan.

Dari pengertian efektif di atas maka efektivitas pengajaran adalah pengajaran yang di dalamnya terdapat pemanfaatan potensi (komponen dan faktor belajar mengajar) yang mampu menjadi sarana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang mampu memanfaatkan semua potensi yang mendorong tercapainya tujuan pengajaran secara optimal. PTK IP Sekolah menengah pertama.

Pengajaran yang tepat adalah pengajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, sedang pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang mempu memanfaatkan semua potensi yang mendorong tercapainya tujuan. Berikut ini adalah beberapa syarat yang diperlukan untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif, antara lain:

a. Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Di dalam belajar anak harus mengalami aktivitas mental misalnya siswa dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis, juga mengalami aktivitas jasmani seperti mengerjakan sesuatu.
b. Guru harus mempergunakan banyak metode mengajar. Variasi metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian anak, mudah diterima anak, dan kelas menjadi hidup. Metode penyajian yang selalu sama akan membosankan bagi anak.
c. Motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan perkembangan anak selanjutnya melalui proses belajar. Bila motivasi dari guru tepat mengenai sasaran, akan meningkatkan kegiatan anak belajar. Dengan tujuan jelas anak akan belajar lebih giat, lebih tekun dan bersemangat.
d. Guru perlu mempertimbangkan pada perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pembelajaran klasikal karena masing-masing anak mempunyai perbedaan dalam berbagai segi, misal intelegensi, bakat, tingkah laku, sikap dan lain-lain. Hal ini mengharuskan guru untuk membuat perencanaan secara individual pula agar dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan anak secara individual. Proposal PTK SMP
e. Guru akan mengajar secara efektif bila selalu membuat perencanaan sebelum mengajar. Dengan persiapan mengajar guru akan mantap di depan kelas, perencanaan yang masak dapat menumbuhkan banyak inisiatif dan daya kreatif guru waktu mengajar, dapat meningkatkan interaksi dalam proses belajar dan pembelajaran antar siswa dan guru.

Efektivitas pengajaran dapat diukur minimal dengan tiga cara:
1. Pendekatan analisis, penelitian menemukan standar minimal yang mungkin dapat dicapai siswa.
2. Pendekatan deskriptif, memberi pada evaluator tentang keberhasilan yang dicapai siswa dalam belajar.
3. Pendekatan eksperimen, dengan cara membandingkan dua kelompok eksperimen dan kelompok control dengan catatan  kondisi kelompok sama. Untuk kedua kelompok diberi perlakuan yang berbeda maka akan diketahui efektif atau tidaknya perlakuan tersebut.
(Gilbert Sax dalam Suharsimi, 1988:169-170)

Menurut Medley dalam Soekartawi (1995:39) dalam pengajaran, guru dituntut harus memiliki pengetahuan bidang studi yang cukup, mengetahui cara mengajar yang efektif, memiliki sikap yang terbuka agar proses belajar mengajar berlangsung pada diri siswa serta dapat mengatur kondisi ruang kelas dan mengambil keputusan yang bijaksana.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar yang efektif yaitu metode mengajar yang dapat membantu meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Belajar dan Pembelajaran

a. Pengertian Belajar
Belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sejak lahir manusia telah memulai usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan dirinya. Oleh karena itu para ahli berusaha menjelaskan pengertian belajar menurut sudut pandang yang berbeda-beda, walaupun demikian terdapat juga persamaan dalam definisi-definisi tersebut.
Menurut Slameto (1995:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Contoh penyusunan laporan PTK.
Beberapa ahli telah mengemukakan beberapa definisi belajar yang lain, antara lain:
1) Belajar menurut Piaget adalah pengembangan aspek kognitif sebagai bekal untuk dapat memecahkan persoalan yang dihadapi siswa dalam kehidupan yang lebih baik. Belajar di sini memperhatikan perkembangan intelektual anak pada masa pertumbuhannya (Mulyati Arifin, 1995:88)
2) Belajar adalah salah satu aktivitas mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nialai sikap. Perubahan ini relatif tetap dan berbekas (Winkel, 1996:53)
3) Menurut Gagne, belajar adalah perubahan perbuatan yang terjadi pada individu. Ketika berubah dari waktu sebelum dia mengalami situasi ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi (Ngalim Purwanto, 1992:84)
4) Belajar adalah proses aktif yang diarahkan pada suatu tujuan dan merupakan proses berbuat melalui berbagai pengalaman (Nana Sudjana, 1996:6)
5) Menurut R. Gagne, belajar adalah suatu proses untuk memperoleh modifikasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku (Roestiyah N.K, 1991:48)
6) Belajar menurut Whittaker adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman (H.J.Gino, 1997:5)
Dari beberapa definisi mengenai belajar tidak dapat ditentukan definisi yang paling baik tetapi antara definisi yang satu dengan yang lain saling melengkapi. Jadi belajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan disengaja sampai terjadi perubahan baik tingkah laku, pengetahuan, pemahaman, ketrampilan maupun nilai sikap dan didapatkannya kecakapan baru.
b. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran dapat diartikan sebagai pengajaran yang mempunyai arti cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan (Poerwadarminta, 1984:22). Itu berarti dalam kegiatan pengajaran ada yang mengajar yaitu pengajar dan ada yang diajar atau yang belajar yaitu siswa. Kegiatan pengajaran dapat dikatakan juga kegiatan belajar mengajar yang melibatkan guru/pengajar dan siswa/pelajar di mana diantaranya terjadi komunikasi dua arah. Beberapa definisi pembelajaran dikemukakan oleh para ahli, antara lain:
1) Pembelajaran adalah kegiatan mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa yang dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa melakukan kegiatan belajar (Nana Sudjana, 1996:7).
2) Menurut aturan psikologi kognitif pembelajaran adalah kegiatan mengaktifkan unsur-unsur kognitif agar memperoleh pemahaman, sedangkan pengertian dapat didasarkan dengan jalan menggunakan alat bantu belajar. Di samping itu sistem penyampaian pengajaran secara bervariasi, artinya menggunakan banyak metode (Gredler, 1991:47).
3) Menurut Alwin W. Howard, pembelajaran adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengembangkan ketrampilan, sikap, cita-cita, penghargaan dan pengetahuan (Roestiyah N.K, 1989:15). 
Dari pengertian pembelajaran di atas dapat dimpulakan bahwa pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan jalan mengaktifkan faktor intern dan ekstern dalam kegiatan belajar mengajar.
Pembelajaran merupakan proses yang kompleks, untuk itu perlu direncanakan oleh guru sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah memilih metode pembelajaran yang akan digunakan disesuaikan dengan materi sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa untuk dapat mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan optimal. Komponen-komponen yang terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar meliputi:
1) Siswa, yakni seseorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
2) Guru, adalah seseorang yang bertindak sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar, katalisator belajar mengajar dan peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
3) Tujuan, yakni pernyataan tentang perubahan penilaian yang diinginkan terjadi pada pembelajaran setelah mengikuti belajar mengajar. Perubahan penilaian tersebut mencakup perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik.
4) Isi pelajaran, yakni segala informasi yang berupa fakta, prinsip dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
5) Metode, yakni cara yang teratur untuk memberikan kesempatan kepada siswa guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan mereka untuk mencapai tujuan.
6) Media, yakni bahan pengajaran dengan atau tanpa alat yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada siswa agar mereka dapat mencapai tujuan.
7) Evaluasi, yakni cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh komponen kegiatan belajar mengajar dan sekaligus memberikan balikan bagi setiap komponen kegiatan belajar mengajar. 
(H.J. Gino, 1997:20)

3. Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, berdemokrasi, dan mampu bersaing sehingga  dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan berdemokrasi, globalisasi dan otonomi daerah.

Kata kompetensi biasanya diartikan sebagai “kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas” atau memiliki ketrampilan dan kecakapan yang disyaratkan”. Johnson menyatakan bahwa pengajaran yang berdasarkan pada kompetensi merupakan suatu system dimana siswa baru dianggap menyelesaikan pelajaran apabila telah melaksanakan tugas yang harus dia pelajari (A. Suhaenah Suparno, 2001:27).
Kompetensi dirumuskan sebagai suatu kecakapan yang harus dikuasai untuk dapat melakukan suatu pekerjaan (kegiatan) dengan standar tertentu (A. Suhaenah Suparno, 2001:29).

Menurut Mulyasa (2003:39) “Kurikulum berbasis kompetensi dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Kurikulum berbasis kompetensi diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab”.
Kompetensi menentukan apa yang harus dilakukan siswa untuk mengerti, menggunakan, meramalkan, menjelaskan, mengapresisasi atau menghargai. Kompetensi merupakan gambaran umum tentang apa yang dapat dilakukan oleh siswa (Balitbang, 2002:30).
Pendidikan yang berdasarkan pada kompetensi adalah sistem yang komponen-komponennya terdiri atas masukan, proses, keluaran dan umpan balik (W.Gulo, 2002:31).

Kompetensi dapat dipahami dalam dua aspek, yaitu aspek yang tampak dan aspek yang tidak tampak. Kompetensi dalam aspek yang tampak disebut dengan performance (penampilan) yang tercermin dalam bentuk tingkah laku yang dapat didemonstrasikan sehingga dapat diamati, dilihat, dan dirasakan. Kompetensi dalam aspek yang tidak tampak disebut juga dengan kompetensi dalam aspek rasional yang dapat diamati karena tidak tampil dalam bentuk perilaku yang empiris. Kemampuan dalam aspek rasional ini umumnya dikenal dalam taksonomi Bloom sebagai kognitif, afektif, dan psikomotorik (W. Gulo, 2002:34).   

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah pengembangan kurikulum yang bertitik tolak dari kompetensi yang seharusnya dimiliki siswa setelah menyelesaikan pendidikan. Tidak saja pengetahuan, tetapi juga ketrampilan, nilai serta pola berfikir dan bertindak sebagai refleksi dari pemahaman dan penghayatan dari yang sudah dipelajari.
Depdiknas (2002:5) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa; b) berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan perbedaan individual siswa; c) menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi dalam penyampaian dan pembelajaran; d) menggunakan sumber belajar yang meluas (guru, siswa, narasumber, dan multi media); e) menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian kompetensi.

Kurikulum Berbasis Kompetensi menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian, konsep ini tentu saja tidak dapat digunakan sebagai resep untuk memecahkan semua masalah pendidikan, namun dapat memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap perbaikan pendidikan (Mulyasa, 2003:40).

Implementasi kurikulum berbasis kompetensi di sekolah memiliki keunggulan sebagai berikut: a) mutu pendidikan lebih terjamin dengan adanya series of competency assesement – daftar kompetensi yang sudah dicapai, b) lebih dapat memenuhi kebutuhan lapangan kerja terutama untuk sekolah lanjutan dan c) dinamika masyarakat dapat diikuti oleh dunia pendidikan karena kurikulum berbasis kompetensi sangat fleksibel.

Keberhasilan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat ditentukan oleh kepala sekolah, guru, siswa, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat yang terlibat secara langsung dalam pengelolaan sekolah. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut:
1) Adanya peningkatan mutu pendidikan, yang dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah dan guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia.
2) Adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber pendidikan, melalui pembagian tanggung jawab yang jelas, transparan dan demokratis.
3) Adanya peningkatan dan perhatian serta partisipasi warga dan masyarakat sekitar sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang dicapai melalui pengambilan keputusan bersama.
4) Adanya peningkatan tanggung jawab sekolah kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya berkaitan dengan mutu sekolah, baik dalam intra maupun ekstra kurikuler.
5) Adanya kompetensi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.
6) Tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan di kalangan warga sekolah, bersifat adaptif dan proaktif serta memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, dan berani mengambil resiko).
7) Terwujudnya proses pembelajaran yang efektif, yang lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar hidup bersama secara harmonis (learning to live together). 
8) Terciptanya iklim sekolah yang aman, nyaman dan tertib sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (enjoyable learning).
9) Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditunjukkan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi untuk memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut bagi perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran di sekolah (E. Mulyasa, 2003: 181-182).

4. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme

Pendekatan pembelajaran kontruktivisme bermakna bahwa murid harus mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri (Stephen N, 2000: 15). Pendekatan pembelajaran konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri siswa. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh siswa itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari sekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha siswa itu sendiri dan bukan dipindahkan dari guru kepada siswa, yaitu tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang lama, dimana guru hanya “menuang ilmu” kepada murid itu berusaha dan menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki.

Para penganut konstruktivisme berpendapat bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi dari kita yang sedang belajar. Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, tetapi merupakan kontruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada disana dan orang tinggal mengambilnya, tetapi merupakan suatu bentukan terus-menerus dari seseorang yang setiap kali mengadakan reorganisasi karena munculnya pemahaman yang baru (http://www.homline.edu.com .18 januari 2005).

Mulyasa (2003: 239) mengemukakan beberapa butir penting yang disarankan oleh model belajar mengajar konstruktivisme: (a) murid harus aktif dalam pembelajaran.; (b) proses aktif ini adalah proses memuat segala sesuatu masuk akal; (c)pembelajaran tidak terjadi melalui transmisi tapi melalui interpretasi.Interpretasi selalu dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya; (d) interpretasi dibantu oleh metode intruksi yang memungkinkan negosiasi pemikiran (bertukar pikiran), melalui diskusi, tanya jawab, dan lain-lain;  (e) tanya jawab didorong oleh kegiatan inquiry (ingin tahu) para murid. Jadi, kalau murid-murid tidak bertanya/tidak bicara berarti murid-murid tidak belajar secara optimal; (f) kegiatan belajar mengajar tidak hanya merupakan suatu proses pengalihan pengetahuan tetapi juga pengalihan ketrampilan dan kemampuan.

5. Metode Pembelajaran Kooperatif

Agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta tujuan belajar dapat tercapai, guru harus memiliki strategi-strategi tertentu. Salah satu langkah untuk memiliki strategi tersebut adalah penguasaan terhadap teknik-teknik penyajian atau biasa disebut dengan metode mengajar. Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh guru.
Metode atau “method” secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pelajaran dengan menggunakan faktor dan konsep secara sistematis (Muhibbin Syah, 1995: 202). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 652) disebutkan bahwa “Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan maupun tujuan yang ditentukan”.

Metode mengajar diartikan juga sebagai teknik guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami, dan digunakan oleh siswa dengan baik (Roestiyah, 2001: 1).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah cara (langkah) yang ditempuh dan direncanakan sebaik-baiknya untuk usaha yang bersifat sadar, disengaja, dan bertanggung jawab yang secara sistematis dan terarah pada pencapaian tujuan pengajaran.   
Salah satu metode yang perlu dikembangkan seiring dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi adalah metode pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif adalah aktifitas belajar kelompok yang teratur sehingga ketergantungan pembelajaran pada struktur sosial pertukaran informasi antara anggota dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan pembelajar lainnya (Kessler, 1992: 8).

Belajar kooperatif merupakan satu strategi pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan kumpulan-kumpulan kecil pelajar dengan memberi peluang untuk berinteraksi sesama mereka di dalam proses pembelajaran (Suhaida Abdul Kadir, 2002: 53).

Pengalaman belajar secara kooperatif menghasilkan keyakinan yang lebih kuat bahwa seseorang merasa disukai, diterima oleh siswa lain, dan menaruh perhatian tentang bagaimana kawannya belajar, dan ingin membantu kawannya belajar. Siswa sebagai subjek yang belajar merupakan sumber belajar bagi siswa lainnya yang dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, misalnya diskusi, pemberian umpan balik, atau bekerja sama dalam melatih ketrampilan-ketrampilan tertentu (A. Suhaenah Suparno, 2001: 156).

Metode pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai 3 tujuan utama, yaitu:
a. Pencapaian akademik 
Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan pada siswa yang berpencapaian rendah dan siswa yang berpencapaian tinggi dalam proses pembelajaran. Siswa yang berpencapaian lebih tinggi dapat mengajari siswa yang berpencapaian rendah. Ini memberikan keuntungan terhadap siswa yang berpencapaian tinggi karena dengan membagikan ide atau pengetahuannya, siswa tersebut menjadi lebih dalam pengetahuannya tentang materi atau bahan ajar. Sedangkan siswa yang berpencapaian rendah lebih tertarik dalam belajar.
b. Penerimaan atau perbedaan
Efek atau dampak yang kedua dari pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang lebih luas terhadap orang lain yang berbeda ras, kebudayaan, kelas social, kemampuan, dan ketidakmampuan.
c. Mengembangkan kemampuan sosial
Tujuan yang ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan siswa kemampuan bekerja sama dan berkolaborasi. Keadaan seperti ini bertujuan untuk memperkecil ketidaksepahaman antara individu yang dapat memicu tindak kekerasan dan seringnya timbul ketidakpuasan ketika mereka dituntut untuk bekerja sama (Arends, 1997: 111-112).
Ada beberapa alasan yang mendasari dikembangkan pembelajaran kooperatif, antara lain: 
1) Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
2) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan-pandangan. 
3) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
4) Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
5) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois.
6) Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.
7) Berbagai ketrampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan.
8) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
9) Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
10) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
11) Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasinya juga (Nurhadi, 2004: 116).
Roger dan David Johnson dalam Anita Lie (2004: 31-35) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperatif learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada 5 unsur yang harus diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
a.   Saling ketergantungan positif 
Keberhasilan suatu karya sangat tergantung pada anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.  
b.   Tanggung jawab perseorangan
  Setiap anggota dalam kelompok bertanggung jawab untuk melakukan yang   terbaik. Setiap anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
c.   Tatap muka
  Setiap anggota kelompok dalam kelompoknya, harus diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan ini akan menguntungkan baik bagi anggota maupun kelompoknya. Hasil pemikiran beberapa orang akan lebih baik daripada hasil pemikiran satu orang saja.

d.   Komunikasi antar anggota 
  Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok sangat tergantung pada kesediaan paraanggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan untuk mengutarakan pendapat mereka.
e.   Evaluasi proses kelompok
  Evaluasi proses kelompok dalam pembelajaran kooperatif diadakan oleh guru agar siswa selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih baik. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Suhaida Abdul Kadir (2002: 59) menyebutkan bahwa berbagai metode belajar kooperatif yang sedang berkembang yaitu:
a) Belajar Bersama (Learning Together) oleh Johnson dkk di University of Minnesota.
b) Pembelajaran Pasukan Pelajar (Student Team Learning) oleh Slavin dkk Johns Hopkins University.
c) Jigsaw oleh Aronson dkk di University of Texas.
d) Investigasi Kelompok (Group Investigation) oleh Sharan dkk di Tel Aviv University.
e) Pendekatan Berstruktur oleh Kagan di University of California, Riverside.
Belajar kooperatif cenderung menaikkan pencapaian pada semua tugas sekolah yang terkait, superioritas atas belajar kompetitif dan individualistik yang  lebih jelas tampak dalm belajar konseptual dalam dan tugas-tugas pemecahan masalah (Usman H.B, 2001: 305).                     

6. Metode Pembelajaran GI (Group Investigation)

Dasar-dasar model Group Investigation dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan teman-temannya dari Universitas Tel Aviv. Metode GI ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam seleksi topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Dalam menggunakan metode GI umumnya kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 5 sampai 6 orang siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai sub topik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan (Arends, 1997: 120-121).
Investigasi kelompok adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif dimana guru dan siswa bekerja sama membangun pembelajaran. Proses dalam perencanaan bersama didasarkan pada pengalaman masing-masing siswa, kapasitas, dan kebutuhan. Siswa aktif berpartisipasi dalam semua aspek, membuat keputusan untuk menetapkan arah tujuan yang mereka kerjakan. Dalam hal ini kelompok merupakan wahana sosial yang tepat untuk proses ini. Perencanaan kelompok merupakan salah satu metode untuk menjamin keterlibatan siswa secara maksimal.
Metode investigasi kelompok adalah perpaduan sosial dan kemahiran berkomunikasi dengan intelektual pembelajaran dalam menganalisis dan mensintesis. Investigasi kelompok tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak ada dukungan dialog dari setiap anggota atau mengabaikan dimensi afektif-sosial dalam pembelajaran kelas (Suhaida Abdul Kadir, 2002: 67).
Dalam model ini terdapat 3 konsep utama, yaitu:
a. Penelitian (inquiry) yaitu proses dimana siswa dirangsang dengan menghidupkan pada suatu masalah. Dalam proses ini siswa merasa dirinya perlu memberikan reaksi terhadap masalah yang dianggap perlu untuk diselesaikan. Masalah ini didapat dari siswa sendiri atau diberikan oleh guru.
b. Pengetahuan yaitu pengalaman yang tidak dibawa sejak lahir namun diperoleh siswa melalui pengalaman baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Dinamika kelompok, menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok individu yang saling berinteraksi mengenai sesuatu yang sengaja dilihat atau dikaji bersama dengan berbagai ide dan pendapat serta saling tukar-menukar pengalaman dan saling berargumentasi.
Spencer Kagan (1985: 72) mengemukakan bahwa metode GI memiliki enam tahapan kegiatan seperti berikut:
a) Mengidentifikasikan topik dan pembentukan kelompok
Tingkatan ini menekankan pada permasalahan dimana siswa meneliti, mengajukan topik dan saran. Peranan ini dimulai dengan setiap siswa diberikan modul yang mana berisikan kisi-kisi, dari langkah ini diharapkan siswa mampu menebak topik apa yang akan disampaikan kemudian siswa yang memiliki topik yang sama dikelompokkan menjadi satu kelompok dalam penyelidikan nanti. Dalam hal ini peran dari guru adalah membatasi jumlah kelompok serta membantu mengumpulkan informasi dan memudahkan pengaturan.
b) Merencanakan tugas belajar
Pada tahap ini anggota kelompok menentukan subtopik yang akan diinvestigasi dengan cara mengisi lembar kerja yang telah tersedia serta mengumpulkan sumber untuk memecahkan masalah yang tengah diinvestigasi. Setiap siswa menyumbangkan kontribusinya terhadap investigasi kelompok kecil. Kemudian setiap kelompok memberikan kontribusi kepada penelitian untuk seluruh kelas.
c) Menjalankan investigasi
Siswa secara individual atau berpasangan mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengevaluasi serta menarik kesimpulan. Setiap anggota kelompok memberikan kontribusi satu dari bagian penting yang lain untuk mendiskusikan pekerjaannya bengan mengadakan saling tukar menukar informasi dan mengumpulkan ide-ide tersebut untuk menjadi suatu kesimpulan.
d) Menyiapkan Laporan Akhir
Pada tahap ini merupakan tingkat pengorganisasian dengan mengintegrasikan semua bagian menjadi keseluruhan dan merencanakan sebuah presentasi di depan kelas. Setiap kelompok telah menunjuk salah satu anggota untuk mempresentasikan tentang laporan hasil penyelidikannya yang kemudian setiap anggotanya mendengarkan. Peran guru di sini sebagai penasehat, membantu memastikan setiap anggota kelompok ikut andil didalamnya.
e) Mempresentasikan hasil akhir
Setiap kelompok telah siap memberikan hasil akhir di depan kelas dengan berbagai macam bentuk presentasi. Diharapkan dari penyajian presentasi yang beraneka macam tersebut, kelompok lain dapat aktif mengevaluasi kejelasan dari laporan setiap kelompok dengan melakukan tanya jawab.
f) Mengevaluasi
Pada tahap ini siswa memberikan tanggapan dari masing-masing topik dari pengalaman afektif mereka. Sedangkan guru dan siswa yang lain berkolaborasi mengevaluasi proses belajar sehingga semua siswa diharapkan menguasai semua subtopik yang disajikan. 
Menurut Joyce (2000: 51) dalam model Group Investigation ini guru hanya berperan sebagai konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat. Di dalam metode ini seyogyanya guru membimbing  dan mencerminkan kelompok melalui tiga tahap:
1)  Tahap pemecahan masalah
2)  Tahap pengelolaan kelas
3)  Tahap pemaknaan secara perorangan

7. Prestasi Belajar

Berhasil atau tidaknya suatu proses belajar mengajar dapat dilihat dari hasil belajarnya. Hasil belajar seseorang dapat dilihat ditunjukkan dari prestasi yang dicapainya.
“ Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi ‘prestasi’ yang berarti hasil usaha” (Zainal Arifin, 1991: 2). Dengan demikian prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil usaha yang telah dicapai dalam belajar.
Berdasarkan pengertian di atas dapat diasumsikan, bahwa prestasi belajar biologi adalah hasil yang dicapai pada taraf terakhir setelah melakukan kegiatan belajar biologi. Prestasi ini dapat dilihat dari kemampuan mengingat dan kemampuan intelektual siswa di bidang studi biologi, pemerolehan nilai dan sikap positif siswa dalam mengikuti pelajaran biologi dan terbentuknya ketrampilan siswa yang semakin meningkat dalam mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya.
Dalam proses pembelajaran, terdapat beberapa faktor yang berkaitan dengan kesulitan belajar yang dapat berpengaruh bagi perstasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor-faktor yang berasal dari dalam (internal) yaitu:
1). Siswa merasa sukar mencerna materi karena menganggap materi tersebut sulit.
2). Siswa kehilangan gairah belajar karena mendapatkan nilai yang rendah.
3). Siswa meyakini bahwa sulit untuk menerapkan disiplin diri dalam belajar.
4). Siswa mengeluh tidak bisa berkonsentrasi.
5). Siswa tidak cukup tekun untuk mengerjakan sesuatu khususnya belajar.
6). Konsep diri yang rendah.
7). Gangguan emosi.
b. Faktor-faktor yang berasal dari luar (eksternal), yaitu:
1) Kemampuan atau keadaan sosial ekonomi.
2) Kekurangmampuan guru dalam materi dan strategi pembelajaran.
3) Tugas-tugas non akademik.
4) Kurang adanya dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
5) Lingkungan fisik.
(A. Suhaenah Suparno, 2001: 52-57).

B.  Kerangka Pemikiran

Keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor intern maupun ekstern. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan efektif merupakan salah satu faktor ekstern yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Metode pembelajaran yang lebih baik mengacu pada implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ialah menggunakan kegiatan murid-murid sendiri secara efektif dalam kelas, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sedemikian rupa secara kontinu dan juga melalui kerja kelompok. Banyak hal yang dapat dilakukan sebelum dan selama murid-murid melakukan kegiatan-kegiatan sehingga berhasil. PTK SMP lengkap

Dari hasil penelitian diperoleh data mengenai nilai ulangan harian ekonomi pokok bahasan sebelumnya yaitu Prinsip dan Motif Ekonomi kelas VII( ) semester genap tahun pelajaran 2005/2006 sebesar 5,85. Asumsi dasar yang menyebabkan prestasi ekonomi siswa kurang optimal tersebut adalah karena metode pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar belum melibatkan keaktifan siswa secara keseluruhan. Metode pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa yang memiliki prestasi belajar ekonomi relatif tinggi. Mereka lebih aktif dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. Sebaliknya siswa yang mempunyai prestasi relatif rendah, mereka lebih pasif menerima pengetahuan dari guru tanpa berusaha untuk mencari informasi lebih mendalam.

Sesuai dengan hal tersebut, maka dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ekonomi harus melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh. Salah satu metode yang perlu diterapkan adalah metode pembelajaran kooperatif GI (Group Investigation).

Dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi belajar ekonomi, dan peran serta (keaktifan) siswa dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi.


metode pembelajaran kooperatif GI (Group Investigation)

Contoh Proposal PTK IPS Lengkap


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN


A.  Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Research). Berdasarkan tujuan penelitian, maka jelas bahwa penelitian ini tidak menguji hipotesis secara kuantitatif, akan tetapi lebih bersifat untuk mendiskripsikan data, fakta dan keadaan yang ada.
Di dalam penelitian ini, kegiatan peneliti di lapangan adalah untuk menyusun rencana kegiatan, melaksanakan tindakan pembelajaran, mengadakan wawancara dengan subjek penelitian, mengadakan evaluasi dan akhirnya melaporkan hasil penelitian. contoh proposal PTK IPS

B.  Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri  yang terletak di jalan Kolonel Sutarto 188, Surakarta, . Pemilihan lokasi ini dikarenakan pada tahun ajaran 2005/2006 SMP Negeri  sistem pembelajarannya sudah mengacu pada kurikulum berbasis kompetensi.
Subjek penelitian adalah siswa kelas VII semester genap tahun pelajaran 2005/2006. Sampel diambil satu kelas dari lima kelas yang ada dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel didasarkan atas berbagai pertimbangan atau tujuan tertentu. 
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2006.

C.  Data dan Teknik Pengumpulan Data

1. Data penelitian

    Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data informasi tentang keadaan siswa dilihat dari aspek kualitatif dan kuantitatif. Aspek kualitatif berupa data catatan lapangan tentang pelaksanaan pembelajaran, hasil observasi dengan berpedoman pada lembar pengamatan dan pemberian angket yang menggambarkan tentang keadaan proses kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kegiatan belajar siswa di rumah. Aspek kuantitatif yang dimaksud adalah hasil penilaian belajar dari materi pokok Kegiatan Pokok Ekonomi berupa nilai yang diperoleh siswa dari penilaian kemampuan berupa aspek kognitif dan aspek psikomotorik.

2. Teknik Pengumpulan Data

     Teknik pengumpulan data disesuaikan dengan data yang ingin diperoleh. Untuk mengetahui aspek kognitif dilakukan tes formatif dalam bentuk soal pilihan ganda. Penilaian aspek psikomotorik diperoleh dari laporan kegiatan praktikum, dan observasi kegiatan praktikum. Untuk mengetahui peran serta siswa dalam kegiatan belajar mengajar dilakukan observasi oleh guru selama KBM dan pembagian angket kepada siswa. Sedengkan untuk mengetahui perilaku siswa dalam kegiatan belajar di rumah dilakukan observasi oleh orang tua.

Tabel 1: Data dan Teknik Pengumpulan Data
No Target Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data
1 Aspek Kognitif Tes formatif
2 Aspek Psikomotorik
3 Presensi Absensi
4 Aspek afektif (peran serta siswa di kelas) Observasi oleh guru dan angket oleh siswa
5 Perilaku siswa dalam belajar sains di rumah Observasi oleh orang tua


D. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data. Analisa yang dilakukan berupa penilaian terhadap semua data kegiatan penelitian yang telah dilakukan di lapangan. Hasil analisa dan temuan disajikan dalam tabel dan grafik yang dijadikan sebagai dasar dalam penarikan kesimpulan penelitian. Data-data dari hasil penelitian di lapangan diolah dan dianalisis secara kualitatif. Teknik analisis kualitatif mengacu pada model analisis Miles dan Huberman (1992: 16-19) yang dilakukan dalam 3 komponen berurutan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis data PTK.

Reduksi data meliputi penyeleksian data melalui ringkasan atau uraian singkat dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih luas. Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan data yang merupakan penyusunan informasi secara sistematik dari hasil reduksi data, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi pada masing-masing siklus.

Penarikan kesimpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan dan penggolongan data. Data yang terkumpul disajikan secara sistematis dan perlu diberi makna. 
Untuk menjaga kevalidan data dalam penelitian digunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi metode. Jenis triangulasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda, dan bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah pada sumber data yang sama untuk menguji kebenaran informasinya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pengumpulan data yang berupa tes hasil tindakan, observasi selama KBM berlangsung, dan wawancara. 
Skema triangulasi dalam penelitian ini sebagai berikut:

                                    Angket                                                                                                                          
         Data                  Observasi                         Siswa
                                        Tes                    


E.  Prosedur Penelitian

Prosedur dan langkah-langkah dalam melaksanakan tindakan mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggar 1988 dalam Kasihani Kasbolah (2001: 63-65) yang berupa model spiral. Dalam perencanaan, Kemmis menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang masalah.

Secara umum, langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan, tahap perencanaan atau penyusunan model, tahap pelaksanaan tindakan, tahap analisis, dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut.

1. Tahap Persiapan

a. Permintaan ijin kepada Kepala Sekolah dan Guru Ekonomi SMP Negeri 16 Surakarta.
b. Observasi untuk mendapatkan gambaran awal tentang SMP yang diteliti secara keseluruhan dan keadaan kegiatan belajar mengajar ekonomi kelas VII khususnya.
c. Identifikasi masalah dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi yang telah dilakukan.

2. Tahap Perencanaan 

Tahap perencanaan meliputi:
penyusunan beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif Group Investigation.  Contoh Proposal penelitian tindakan kelas
Instrumen penelitian tersebut terdiri dari silabus, LKS, soal tes formatif, lembar penilaian, angket dan lembar observasi peran serta siswa dalam KBM di kelas, lembar observasi penilaian psikomotorik, dan lembar observasi perilaku belajar siswa di rumah.

3. Tahap Pelaksanaan / Tindakan

  a. Hal-hal yang dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan adalah implementasi metode pembelajaran kooperatif Group Investigation yang telah disusun oleh peneliti. Adapun skema skenario tahap pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut:
1).  Siklus I
a).  KBM Pertemuan I
(1). Pemberian materi pertemuan pertama
(2). Tanya jawab materi pertemuan pertama
(3). Pembahasan dan kesimpulan materi pertemuan pertama
b). KBM Pertemuan 2
 (1). Kilas balik materi pertemuan pertama
             (2). Melanjutkan materi
             (3). Pengarahan LKS dan pelaksanaan praktikum di laboratorium
                       (4). Pembuatan laporan hasil praktikum
c)  KBM pertemuan 3
(1). Kilas balik materi pertemuan kedua
(2).Penjelasan dan kesimpulan materi oleh guru secara keseluruhan
d). KBM pertemuan 4
                        (1). Ulangan harian pertama
2). Siklus II
a). KBM Pertemuan 5
(1). Pembagian kelompok dan pengarahan metode Group Investigation. 
(2). Pembagian materi setiap kelompok secara acak dilanjutkan investigasi kelompok.
b). KBM Pertemuan 6
(1). Pengarahan LKS dan pelaksanaan praktikum di laboratorium 
(2). Pembuatan laporan hasil praktikum
c). KBM pertemuan 7
(1).  Presentasi laporan hasil kerja kelompok
d). KBM pertemuan 8
(1).Penjelasan dan kesimpulan materi oleh guru secara keseluruhan
e). KBM Pertemuan 9
        (1). Ulangan harian kedua                                                                                             

4. Tahap Observasi dan Evaluasi

Peneliti bertugas sebagai guru pengajar dan juga sebagai pengamat pelaksanaan KBM. Fokus pengamatan ditekankan pada implementasi pembelajaran kooperatif Group Investigation terhadap kualitas pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi : tingkat kompetensi belajar ekonomi, peran serta siswa dalam KBM.

5. Tahap Analisis dan Refleksi

Pada tahap ini dilakukan terhadap pelaksanaan proses KBM, hasil penguasaan materi (nilai tes) dan tanggapan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Berdasarkan pelaksanaan tahap observasi dan evaluasi sebelumnya, data yang diperoleh selanjutnya menjadi bahan refleksi bagi peneliti untuk perbaikan metode pembelajaran materi pokok berikutnya (pada siklus II). PTK Madrasah Tsanawiyah.

6. Tahap Tindak Lanjut

Setelah kegiatan penelitian ini diharapkan ada tindak lanjut dari guru ekonomi berupa:
Peningkatan profesionalisme jabatan guru terutama untuk memperbaiki proses pembelajaran yang berkelanjutan. 
Mampu mengembangkan strategi pembelajaran agar kompetensi pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Secara rinci urutan masing-masing tahap dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut:

Skema Prosedur Penelitian Siklus 1 dan Siklus 2

PTK IPS EKONOMI SMP dan MTS


DAFTAR PUSTAKA


Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New Jersey: The Mc.Graw Hill Companies, Inc. 
A. Suhaenah Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Balitbang Depdiknas. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Depdikbud.
Burhan Bungin. 2005. Analisisi Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Depdikbud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Enco Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remadja Rosda Karya.
Elliott, Stephen.N. 2000. Educational Psycology: Effective Teaching, Effective Learning. Boston: Mc Graw Hill.
H.B. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Joyce, Bruce.R. 2000. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.
Kagan, Spencer. 1985. Dimension of Cooperative Classroom Structure (Slavin, R.E. Learning to Cooperate, Cooperate to Learn). London: Plenum Press.
Kasihani Kasbolah. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang.
Kessler, Carolyn. 1992. Cooperative Language Learning: A Teacher’s Resource Book. New Jersey: Prentice Hall Regents.
Lexy. J. Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Miles, Mathew B. dan A.Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remadja Rosda Karya.
Nurhadi. 2004. Kurukulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Paul Suparno. 2005. Konstruktifisme dan Dampaknya Terhadap Penduduk. [Online]http://www.homline.edu.com./apakabar/basisdata/1996/11/18/0236.html, diakses tanggal 18 Januari 2005. 
Roestiyah N.K 2001. Strategi Belajar Mengajar (Salah Satu Unsur Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar : Teknik Penyajian). Jakarta: Rineka Cipta.
Suhaida Abdul Kadir. 2002. Perbandingan Pembelajaran Kooperatif dan Tradisional Terhadap Prestasi, Atribusi Pencapaian, Konsep Kondisi Akademik dan hubungan Sosial Dalam Pendidikan Perakaunan. Tesis: Malaysia.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta..
Usman H.B. 2001. Jurnal Ilmu Pendidikan (meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Tentang Konsep Limit Fungsi Satu Variabel real Melalui Pembelajaran Kooperatif). Malang: Universitas Negeri Malang.
W. Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.







Terima kasih telah berkunjung di Asri Yulian Blog yang membahas Contoh Proposal PTK IPS Ekonomi SMP. Semoga PTK IPS Terpadu (Ekonomi) ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.