Rabu, 29 Juni 2016

CONTOH PTK PAI SMP dan MTs KELAS VII

CONTOH PTK PAI SMP KELAS VII LENGKAP-Pendidikan Agama Islam (PAI)  merupakan mata pelajaran pokok yang tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk dapat menguasai  berbagai kajian keislaman. Di dalam pembelajaran guru dituntut mampu mebuat penelitian tindakan kelas PAI SMP kelas 7 Saat ini banyak siswa yang menyukai belajar PAI. Pendidikan PAI dibutuhkan untuk mejaga moral siswa. Contoh PTK PAI SMP dan MTs kelas Vii anda dapat membuat materi pembelajaran kepada siswa secara terperinci.


Menghadapi kondisi moral siswa yang semakin memprihatinkan seperti sekarang banyak kasus pemerkosaan yang dilakukan anak pada usia sekolah kami tertarik untuk memberikan contoh (PTK) penelitian tindakan kelas PAI MTs untuk menemukan suatu cara atau teknik pembelajaran yang didukung oleh media pembelajaran sehingga siswa kelas 7  SMP dapat terlibat secara aktif dan dapat meningkatkan hasil nilai pendidikan agama islam yang memuaskan.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas Mapel Agama Islam SMP/MTs yang diberi judul “Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Kompetensi Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah Dengan Teknik Diskusi Di Kelas Vii Mts. Bustanul Ibad Kota Bekasi Tahun Pelajaran 2009-2010, untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam kenaikan tingkat dari IV a ke IV b. Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK Agama Islam Kelas 7 SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-42-444-991 dengan Format PESAN PTK 71 SMP).


Penelitian Tindakan Kelas Agama Islam MTs

ABSTRAK

Performance siswa yang produktif, berprestasi dan mandiri sebagai salah satu indikasi penting dalam mutu pembelajaran dapat dilihat dari hasil kegiatan belajarnya. Hal ini terkait pula dengan tingkat pemahaman siswa karena tinggi rendahnya prestasi belajar siswa juga hasil dari upaya belajarnya. Proses belajar mengajar dibedakan menjadi dua dimensi, yaitu dimensi cara menguasai pengetahuan dan dimensi cara menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah ada. Rendahnya perolehan prestasi belajar akidah akhlak di MTs. Penelitian tindakan kelas MTs Bustanul Ibad menunjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa pada kompetensi iman kepada malaikat-malaikat Allah dengan teknik diskusi di kelas VII MTs. Bustanul Ibad. Contoh PTK PAI SMP. Penelitian ini diharpakan bermanfaat bagi siswa bahwa pembelajaran dengan metode teknik diskusi memberikan pengalaman bari diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Di samping itu melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah. Bagi guru penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional dan pembelajaran dengan metode teknik diskusi menjadi alternatif pembelajaran akidah akhlak untuk meningkatkan prestasi siswa. Laporan PTK Pendidikan Agama Islam.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif karena penelitian ini mengkaji lebih mendalam penggunaan metode teknik diskusi. Dalam pembelajaran akidah akhlak yang membantu siswa mengetahui, memahami, mengamalkan dalam kehidupan dunia nyata dan ingin mengetahui hasil belajar siswa setelah penggunaan metode diskusi tersebut. Download PTK.

Berdasarkan analisis dan refleksi hasil tes prasyarat siklus I, II dan III dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak di MTs. Bustanul Ibad pada siklus I dengan menggunakan metode diskusi mencapai nilai 57,7% termasuk kualifikasi rendah dan pada siklus II dengan menggunakan metode diskusi mencapai nilai 75% maka angka tersebut kualifikasi sedang. Pada siklus III mencapai nilai 83% maka angka tersebut kualifikasi tinggi. Akhirnya berarti bahwa setelah siklus III semua subjek mengalami peningkatan prestasi belajar akidah akhlak dengan menggunakan metode teknik diskusi. contoh skripsi PTK

Contoh PTK PAI SMP Lengkap

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran sebagai modal awal siswa Madrasah Tsanawiyah terutama mata pelajaran Akidah Akhlak adalah pelajaran yang mendalami dasar keyakinan seorang siswa sebagai lanjutan peserta didik di madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar. Peningkatan tersebut dilakukan dengan cara mempelajari tentang Rukun Iman, mulai dari iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir sampai iman kepada Qadla dan Qadar yang dibuktikan dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta pemahaman dan penghayatan terhadap Iman kepada Malaikat-malaikat Allah dengan menunjukkan ciri-ciri/tanda-tanda perilaku seseorang dalam realitas kehidupan individu dan sosial serta pengamalan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Download PTK SMP lengkap.

Secara substansial mata pelajaran Akidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan untuk melakukan beriman kepada Allah dan malaikat dalam kehidupan sehari-hari dengan metode-metode yang sesuai untuk tercapainya proses belajar mengajar. Jasa Pembuatan PTK.

Mutu pembelajaran tidak akan mungkin tercapai tanpa performance siswa yang peka, kritis, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab. Sebab menurut Guthrie dan Reed dalam M. Sukardi (1999: 176-182) siswa merupakan salah satu sumber daya manusia yang menentukan mutu pembelajaran. Performance siswa yang produktif, berprestasi dan mandiri sebagai salah satu indikasi penting mutu pembelajaran, dapat dilihat dari hasil setiap kegiatan belajarnya. Hal ini terkait pula dengan pemahaman siswa, karena tinggi rendahnya prestasi siswa juga hasil prestasi belajar siswa dari upaya kegiatan belajarnya. PTK Pendidikan Agama Islam.

Kemajuan dan perkembangan IPTEK serta perubahan masyarakat yang sangat cepat menuntut keharusan para guru mengikuti perkembangan keahliannya, seperti halnya guru akidah akhlak akan mengembangkan keahliannya di bidang akidah akhlak. Dengan demikian, guru mempunyai tugas yang semakin komplek dalam tugasnya. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya baik secara individual maupun kelompok.

Dalam konteks nilai paedagogis guru juga bertugas membantu, membimbing dan memimpin siswanya dalam pemahaman ini. Mohammad Rivai dalam Suryo Subroto (2002: 4) mengatakan bahwa di dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya yang dilakukan itu. Ia tidak melakukan instruksi-instruksi, dan tidak berdiri di bawah instruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas. Contoh laporan PTK.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya, penyusunan ptk rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut, bagaimanakah meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman kepada malaikat Allah dengan menggunakan metode diskusi di kelas VII MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi.
Secara spesifik rumusan masalah dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1.    Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah pada siklus I di MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi dengan menggunakan metode teknik diskusi?
2.    Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah pada siklus II di MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi dengan menggunakan metode teknik diskusi?
3.    Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah pada siklus III di MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi dengan menggunakan metode teknik diskusi?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui bagaimana strategi meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah dengan teknik diskusi di kelas VII MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi. Manfaat penelitian tindakan kelas.
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:
1.    Meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah pada siklus I di MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi dengan menggunakan metode teknik diskusi.
2.    Meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah pada siklus II di MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi dengan menggunakan metode teknik diskusi.
3.    Meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi beriman pada malaikat Allah pada siklus III di MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi dengan menggunakan metode teknik diskusi
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dapat diraih dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi Kepala Sekolah: sebagai sarana pembinaan kepada guru-guru akidah akhlak untuk mempertimbangkkan penggunaan metode teknik diskusi.
2.    Bagi guru bidang studi Akidah Akhlak: sebagai sarana untuk meningkatkan hasil proses mengajar bidang studi PAI umumnya dan Akidah Akhlak khususnya.
3.    Bagi teman sejawat: sebagai sarana untuk belajar dalam Penelitian Tindakan Kelas dengan metode yang berbeda sehingga memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dalam penelitian tindakan kelas.


Contoh PTK MTs Kelas VII

BAB II

KAJIAN PUSTAKA


A. Kajian Teoritis

Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Laporan lengkap PTK Guru.
Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.
Langkah-langkah:
1.    Bagi kelas menjadi 5 kelompok (masing-masing terdiri dari 6 orang) untuk lima bagian pelajaran yang berbeda, langsung untuk mendiskusikan dan menyelesaikannya tanpa harus menerangkan terlebih dahulu contoh : Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah.
-    Pengertian beriman kepada malaikat Allah
-    Nama-nama malaikat
-    Sifat-sifat malaikat
-    Tugas-tugas malaikat 1-5
-    Tugas-tugas malaikat 6-10
2.    Dari kelima kelompok dipecah kembali menjadi enam kelompok dengan anggota berbeda.
3.    Setiap anggota kelompok baru menerangkan hasilnya kepada anggota lain (dalam satu kelompok) secara berurutan sampai semua kebagian.
4.    Berikan 5 soal berbeda dari lima bagian pelajaran untuk diselesaikan oleh grup baru.
5.    Berikan jawaban yang benar oleh guru melalui OHP atau tunjuk untuk menerangkan hasil kerjanya di papan tulis.

B. Hakikat  Belajar

Hakikat belajar mengajar: menurut Abu Ahmadi, hakikat mengajar itu ada 3 jenis :
1.    Menanamkan pengetahuan kepada anak,
2.    Menyampaikan pengetahuan dan kebudayaan kepada anak,
3.    Suatu aktivitas mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar.
Hakikat belajar adalah usaha sadar untuk menguasai ilmu, untuk dapat menerapkan pengetahuan,  untuk dapat melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik. Jadi belajar dan mengajar saling berkaitan dalam suatu proses menuju perubahan pengetahuan, perubahan tingakah laku, perubahan keterampilan dan dapat mengatasi persoalan hidup dengan baik dan mandiri.

C. Malaikat-malaikat Allah

Beriman kepada malaikat-malaikat Allah merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai atau dipahami seorang siswa pada mata pelajaran akidah akhlak. Hal tersebut seorang guru harus mampu mengajarkan kompetensi tersebut dengan berbagai pendekatan atau metode dan teknik tertentu.
Malaikat adalah makhluk Allah yang terbuat dari cahaya, jumlah malaikat tidak terhitung, hanya ada 10 malaikat yang wajib diketahui adalah :
-    Jibril
-    Mikail
-    Isrofil
-    Izroil
-    Munkar
-    Nakir
-    Rokib
-    Atid
-    Malik
-    Ridwan
a)    Sifat-sifat malaikat
-    Malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya (HR Muslim);
-    Malaikat adalah makhluk Allah yang taat, senantiasa mengerjakan perintah Allah (QS. Al-Anbiya: 27);
-    Malaikat tidak memerlukan makanan dan minuman (QS Hud: 70)
-    Malaikat senantiasa menyembah dan bertasbih kepada Allah tanpa putus sepanjang masa (QS. Al-Anbiya: 27).
-    Malaikat tidak berjenis laki-laki atau perempuan (QS Al-Isra: 40)
-    Malaikat tidak mati sebelum datangnya hari qiamat karena harus menunaikan tugas dari Allah swt.
-    Atas kehendak Allah malaikat bisa berubah wujud menjadi bentuk lain.
b)    Tugas - tugas malaikat
-    Jibril tugasnya menyampaikan wahyu/risalah;
-    Mikail tugasnya mengatur rizki meliputi hujan, menebarkan karunia Allah kepada seluruh alam.
-    Isrofil tugasnya meniup sasangkala sebanyak 3 kali, tiupan pertama mengancurkan seluruh alam, yang kedua mematikan seluruh makhluk yang bernyawa, dan tiupan ke tiga membangkitkan manusia pada hari pembalasan di padang mahsyar.
-    Izroil tugasnya mencabut nyawa (QS As-Sajdah ayat 11).
-    Munkar  Memeriksa manusia dalam kubur
-    Nakir memeriksa manusia dalam kubur
-    Roqib tugasnya mencatat amal baik manusia.
-    Atid tugasnya mencatat amal buruk manusia
-    Malik menjaga pintu neraka
-    Ridwan menjaga pintu neraka
c)    Hikmah beriman kepada malaikat Allah
-    Mempertebal dan menambah keimanan terhadap Allah Swt.
-    Menumbuhkan sifat dan sikap istiqomah dalam menaati Allah Swt.
-    Menumbuhkan dan membiasakan diri kita untuk selalu mawas diri.
-    Meningkatkan rasa syukur terhadap Allah Swt.
-    Semaikn menyadarkan diri kita bahwa dunia ini hanya sementara atau tidak kekal.

D. Hipotesis Tindakan

    Penulis berkeyakinan bahwa metode diskusi mampu meningkatkan pemahaman siswa MTs. Bustanul Ibad Kota Bekasi terutama pada kompetensi beriman kepada malaikat-malaikat Allah.

Proposal PTK SMP Kelas 7

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada BAB IV di atas, ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu:
1.    Meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi iman kepada malaikat Allah di MTs Bustanul Ibad pada siklus I dengan menggunakan metode diskusi mencapai nilai 57,7%, angka tersebut termasuk kualifikasi rendah.
2.    Meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi iman kepada malaikat Allah di MTs Bustanul Ibad pada siklus II dengan menggunakan metode diskusi mencapai nilai 75%, maka angka tersebut kualifikasi sedang, intervalnya antara 65-75.
3.    Meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi iman kepada malaikat Allah di MTs Bustanul Ibad dengan metode diskusi pada siklus III mencapai nilai 83%, maka angka tersebut kualifikasi tinggi, berada pada interval 80-100.

B. Saran

1.    Melalui pembelajaran model diskusi, guru dapat dengan mudah merespon potensi atau modalitas siswa dalam setiap kelompok belajar, apakah tergolong kepada kelompok Visual, atau kelompok Auditorial atau kelompok Kinestetik. Dengan demikian seorang guru yang profesional dapat lebih efektif dapat melakukan kegiatan proses belajar mengajar, serta dengan mudah dapat merespon perbedaan perbedaan potensi yang dimiliki peserta didiknya. Penyusunan proposal penelitian tindakan kelas.
2.    Bersyukurlah kita senantiasa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbanggalah kita menjadi seorang guru yang dilibatkan (diikut-sertakan) dalam kegiatan penelitian kegiatan kelas tahun 2009 ini. Berbuat lebih baik lagi, agar kita dapat menuntut yang lebih baik. Bekerjalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan besok harus lebih baik daripada hari ini. Dengan demikian, maka kita termasuk orang-orang yang sukses. Contoh Proposal PTK MTS

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.     Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bina Aksara
Asrori, Muhammad. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Wacana Prima
Departemen Agama RI  2007 ” KTSP Mata Pelajaran AQIDAH AKHLAK”
Ibrahim, T.  2007. Membangun Akidah Akhlak KelasVII. Surakarta: Tiga Serangkai
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Roestiyah,N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Yusmansyah, Taofik. 2008. Aqidah dan Akhlak. Bandung: Grafindo.
Zaini, Hisyam. Dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan   Madani.


Terima kasih telah berkunjung di Asri Yulian Blog yang membahas Contoh PTK PAI SMP dan MTs kelas VII. Semoga PTK Agama Islam ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.

Senin, 27 Juni 2016

CONTOH LAPORAN PTK SMP BAHASA INGGRIS KELAS VII

CONTOH LAPORAN PTK SMP BAHASA INGGRIS KELAS VII-Good morning everybody kali ini Asri Yulian Blog akan membahas PTK SMP Bahasa inggris. Hasil belajar siswa SMP untuk mata pelajaran Bahasa lnggris sangat rendah, maka dibutuhkan contoh laporan PTK dan penanganan yang baik. untuk memiliki kompetensi bahasa inggris  guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas SMP, PTK  bahasa Inggris smp ini digunakan sebagai acuan guru dalam mengembangkan pola ajar didik siswa PTK Bahasa inggris untuk menempatkan ketrampilan bahasa inggris dalam kurikulum bahasa asing pertama yang harus dikuasai siswa khususnya  kelas VII.

Guru sebagai tenaga professional bisa menunjukkan bahwa guru telah bekerja secara professional dengan membuat Contoh Laporan PTK SMP Bahasa Inggris Kelas VII dalam menguasai materi pembelajaran, professional dalam menyampaikan materi pembelajaran melalui sumber mapel Bahasa Inggris kepada siswa juga bisa sekaligus peneliti


Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas Mapel Bahasa Inggris SMP yang diberi judul “Upaya Meningkatkan Speaking Skill Listening Dalam Pre-Classroom Activity pada Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas VII-B SMP N, untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam kenaikan tingkat dari IV a ke IV b. Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK Bahasa Inggris Kelas 7 SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-42-444-991 dengan Format PESAN PTK 132 SMP).


Contoh Judul PTK Bahasa Inggris SMP


Supardi. “Upaya Meningkatkan Speaking Skill Listening Dalam Pre-Classroom Activity pada Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas VII-B SMP Negeri 1 Jakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 Semester II”.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan patisipasi siswa yang masih rendah dalam proses pembelajaran matematika di kelas VIII-B SMP Negeri 1 Jakarta.
Pemecahan rendahnya partisipasi siswa di kelas VIII-B SMP Negeri 1 Jakarta adalah dengan penerapan metode tutor sebaya. Setelah diterapkan metode tutor sebaya partisipasi siswa kelas VIII-B dalam pembelajaran matematika meningkat. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus terhadap 38 orang siswa. Teknik pengumpulan data melalui observasi oleh guru dan kolaborator, dan analisis data dilakukan secara deskripsi dengan teknik persentase. Tingkat partisipasi siswa dinyatakan dengan kategori tinggi, sedang, atau rendah, sedangkan keberhasilan tutor sebaya dinyatakan dengan berhasil, kurang berhasil, atau tidak berhasil.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1) Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran tinggi, karena telah mencapai kriteria yang ditetapkan, yakni 100% siswa terlibat aktif, 2) Frekuensi siswa yang bertanya tinggi, karena kriteria yang ditetapkan, yakni 76%, sedangkan kriteria 75%, 3) Siswa yang mampu mengajukan pendapat sedang, karena meskipun belum memenuhi kriteria tetapi dari segi kuantitas mengalami peningkatan, 4) Siswa yang mampu menjawab pertanyaan tinggi, karena melampaui kriteria yang ditetapkan yakni 83%, sedangkan kriteria 80%, dan 5) Kinerja kelompok tinggi, karena sangat kompak dan dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Dengan demikian Penggunaan metode tutor sebaya berhasil meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika di kelas VIII-B SMP Negeri 1 Jakarta.

Kata kunci : Prestasi Belajar, Metode Tutor Sebaya

Proposal PTK Bahasa Inggris SMP


A. Latar Belakang Masalah

Sebagai guru mata pelajaran bahasa Inggris, peneliti menemukan masalah berupa kesulitan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris baik dalam proses belajar mengajar apalagi di luar lingkungan kelas. Setiap rangsangan yang diberikan guru berupa pertanyaan yang hasus dijawab atau penugasan untuk melakukan dialog tidak mendapatkan respon seperti yang diharapkan.
Dari pengamatan peneliti, siswa tampak tidak punya keberanian untuk mengungkapkan pikirannya dalam bahasa Inggris. Sedangkan bila ada yang mencoba untuk berbicara dalam bahasa Inggris, mereka mengalami kesulitan mengungkapkannya dengan ungkapan yang dianggap benar. Oleh karena itu mereka selalu ragu untuk berbicara dalam bahasa Inggris.
Bagi peneliti masalah ini sangat penting dan memerlukan penyelesaian yang tepat dan cepat karena nampak dari keadaan ini adalah tidak berjalannya kegiatan pembelajaran speaking di dalam kelas. Apalagi bila mengingat Kurikulum Berbasis Kompetensi atau dikenal dengan Kurikulum 2004 yang mengisyaratkan bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris ditujukan pada pengembangan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan melalui ketrampilan membaca, menyimak, berbicara dan menulis secara seimbang karena hal ini dibutuhkan dalam era globalisasi dan informasi abad 21.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya masalah di atas, diantaranya :
1.    Rendahnya penguasaan siswa terhadap cara mengungkapkan pikiran dalam bahasa Inggris.
2.    Minimnya sarana dan kesempatan/waktu bagi siswa untuk berbicara dalam bahas Inggris.
3.  Langkanya model/contoh ungkapan bahasa Inggris yang sangat mereka butuhkan untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
4.  Kurangnya minat siswa untuk berlatih karena minimnya rangsangan atau tantangan yang mengharuskan mereka menggunakan bahasa Inggris.
Faktor-faktor di atas sebenarnya telah disadari oleh guru sejak lama dan berbagai usaha telah dilakukan untuk megatasinya. Misalnya dengan menerapkan model "Communicative Approach" yang dianggap paling sesuai dalam pengajaran bahasa Inggris. Namun usaha tersebut masih belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Mungkin bukan metodenya yang dianggap lemah, melainkan penerapannya yang harus lebih kreatif. Apalagi metode ini sangat fleksibel dalam penentuan target pembelajaran dan sumber ajar.
Albert Tupan (2003) mengemukakan bahwa GBPP dan Kurikulum sebagai landasan pokok dari upaya penyusunan pengajaran tidak dimaksudkan untuk memasung kreativitas pemakaiannya. Dengan terbukanya kurikulum 2004, maka terbuka peluang untuk mendapatkan materi-materi dengan 
cara baru untuk meningkatkan hasil belajar.
Peneltian tindakan kelas yang dilaksanakan ini berusaha untuk menemukan pemecahan yang dapat diupayakan oleh guru dengan tetap mengikuti ketentuan dan struktur kurikulum dan susunan buku bahan ajar yang dinyatakan dalam kurikulum bahasa Inggris SMP tahun 2004, oleh sebab itu dalam penelitian ini peneliti memilih judul:"Meningkatkan Speaking Skill Melalui Listening Dalam Pre-CIassroom Activity pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Maduran Kabupaten Lamongan Tahun Pelajaran 2008/2009"

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah :
1.    Dapatkah pemberian kegiatan listening dalam pre-classroorn activity meningkatkan kemampuan siswa untuk berbicara dengan bahasa Inggris ?
2.    Apakah penambahan repeatation pada kegiatan listening tersebut bisa menambah kemampuan siswa dalam mengungkapkan pikiran tertentu dengan tepat dan meningkatkan keberanian mereka untuk menggunakan/menunjukkan ketrampilan bahasa Inggris secara lisan ?.

C. Tujuan Penelitian

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas diharapkan mampu memperbaiki mutu pengajaran di sekolah. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian tindakan ini dapat:
1.    Meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris
2.    Meningkatkan minat siswa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris terutama dalam interaksi kegiatan belajar mengajar di kelas.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Dengan dilaksanakannya penelitian ini diharapkan akan membawa manfaat antara lain :
1.    Siswa dapat meningkatkan kemampuan speaking-nya
2.    Guru dapat meningkatkan kemampuannya dalam membimbing siswa khususnya dalam pembelajaran speaking
3.    Peneliti dapat meningkatkan kemampuan dalam melakukan penelitian yang bersifat peningkatan mutu pembelajaran
4.    Sekolah dapat meningkatkan kualitas pelayanannya pada masyarakat
5.    Dapat menambah khazanah pengetahuan di dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris.

E. Pembatasan Masalah

        Untuk kepentingan efektif dan efisiennya penelitian ini serta sangat luasnya permasalahan, maka penulis membatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1.    Penelitian dilakukan pada siswa-siswi kelas VII SMP Negeri 1 Maduran Kabupaten Lamongan pada Semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009
2.    Hanya dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Inggris, khususnya pada sub tema: Sea Animal

F. Sistematika Penulisan

Agar yang membaca dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bagaimana isi Karya Tulis Ilmiah ini, maka penulis sajikan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I    :    Pendahuluan
Dalam pendahuluan ini memuat antara lain: Latar belakang masalah, Rerumusan masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Batasan Masalah, dan Sistematika penulisan.
Bab II    :    Kajian Teoritis dan Rencana Tindakan.
Dalam bab ini penulis menyajikan tentang: Kajian Teoritis, dan Rencana Tindakan.
Bab III     :    Metode Penelitian.
    Dalam metode penelitian ini, penulis menguraikan tentang: Setting Penelitian, Persiapan Penelitian, Siklus Penelitian, Instrumen, Analisis dan Refleksi.
    Bab IV     :    Hasil Penelitian.
Dalam bab ini yang penulis sajikan adalah: Siklus I, Siklus II, dan Siklus III.
    Bab V     :    Kesimpulan dan Saran.
Dalam bab ini memuat tentang: Kesimpulan dan Saran.

Tema Laporan Penelitian Tindakan Kelas PTK Bahasa Inggris

 

A. Kajian Teoritis

1.    Tujuan Pendidikan
Dengan penerapan Life Skill Education (Pendidikan Kecakapan Hidup), maka orientasi pendidikan diarahkan pada pembelajaran hidup secara nasional dan internasional sehingga mampu mengatasi masalah hidup dan kehidupan baik lokal maupun global (Dinas P dan K Jawa Timur 2002), dengan demikian siswa benar-benar dibekali dengan ketrampilan berbahasa yang memungkinkan mereka mampu menjalankan kehidupannya bukan hanya local tapi juga internasional.
2.     Fungsi dan Tugas Pengajaran Bahasa Inggris
Kurikulum bebasis kompetensi mata pelajaran bahasa Inggris SMP (2006) menetapkan bahwa dengan penguasaan kosakata dalam tingkatan 2.500 dan tata bahasa yang sesuai dengan tema yang tersedia, siswa mampu antara lain :
a.    Memahami dan menginterpretasikan teks lisan pendek dan sedarhana berbentuk percakapan narasi dan deskripsi
b.    Melakukan percakapan mengungkapkan perasaan emosional, saling bertukar pikiran dengan lancar
c.    Menggunakan bahasa Inggris untuk kesenangan dan pengayaan pribadi.
3.    Bahan Ajar Bahasa Inggris
    Dalam upaya mengembangkan materi untuk dijadikan bahan ajar, David Nunan (1988), mengungkapkan ada 6 (enam) butir prinsip penting sebagai beikut:
a.    Materials should be clearly linked to the curriculum they serve
b.    Materials should be authentic in items of text and tesk
c.    Materials should stimulate interaction
d.    Materials should allow learners to focus on formal aspect of language
e.    Materials should encourage learners to develop learning skill and skills in learning how to learn
f.    Materials should encourage learners to apply their developing language skills to the word beyond the classroom.
 4.    Pentingnya Kegiatan Listening pada Pembelajaran Speaking
Alan Matthews (1992) mengatakan, if one our main aims is to teach our students oral communication, then we have no option but to give prominence to the development of listening skills as well. I think we should aim to provide our students with sufficient listening practice to enable them to understand with reasonable ease both native and non native speakers of English when they speak at normal speed in unstructured situations.
Dari pernyataan ini bisa disimpulkan bahwa pembelajaran listening tak dapat dihindari bila kita ingin memberikan ketrampilan berkomunikasi.
Adrian Doff (1990) dalam hal ini juga menekankan sebagai berikut: We Cannot develop speaking skills unless we also develop listening skills to have a successful conversation, student must understand what is said to them. Later, the ability to understand spoken English may become very important (for listening to the radio, understanding foreign visitor, studying, etc). To develop this ability, students need plenty of practice in listening to English spoken at normal speed.

5.    Pengujian Speaking Skill
Dalam hal pengujian Speaking Skill Adrian Doff (1990) mengatakan: Obviously, it is very difficult to test speaking, especially with large classes. Whereas with listening, reading and writing students can all be tested at the same time, with speaking each students (or pair of students) must be tested in turn. There are two main ways of testing students speaking ability by tests to each student.

B. Hipotesis Tindakan

Tindakan ini akan diterapkan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran yang reguler dan dilakukan di dalam kelas, sehingga tidak perlu mengubah jadwal pelajaran atau target kurikulum yang sudah ada. Kegiatan listening akan disajikan semudah mungkin sehingga kegiatan ini bukan menambah beban tugas bagi siswa tapi sebaliknya ia akan memberikan model dan motivasi pengungkapan pikiran secara benar dan kontekstual.
Dengan demikian, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah bahwa: Penyajian listening pada preclassroom antivity akan efektif meningkatkan minat siswa berbicara dalam bahasa Inggris dan sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengungkapkan gagasannya.

PTK Jadi Lengkap Dari BAB1 sampai BAB 5 Download

 

DAFTARPUSTAKA


Doff Andrian, 1990, Teach English. Cambridge University Press, Cambridge
Nuthall Christine 1987, Teaching Reading Skill in a foreign languageA
Heinenman educational books, London 1987
Proyek Pengembangan BPG Surabaya 2002, Buku Petunjuk Diklat Guru Penulisan Akademik SLTP/SMU Negeri / Swasta Jawa Timur, Depdiknas 2002
Proyek Peningkatan Mutu SMU Jawa Timur, Pengembangan Kurikulum dan Sistem Pengujian Berbasis Kompetensi, Workshop KBK SMU Negeri/Swasta, Surabaya Dinas P dan K
Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP/SMU, Teaching Listening, Bahan Pelatihan LKGI Bahasa Inggris di Sidoarjo 14 s/d 20 Juli 1999
Puskur Balitbang 2006, Silabus Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP, Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional
Soars John and Liz 1993, Headaway Student Book Mediate, Oxford University Press, Oxford 1993
Tupan Albert, 2003, Prinsip-Prinsip Penting dalam Upaya Penyusunan Materi Pengajaran Bahasa inggris, makalah disajikan dan workshop bahasa inggris di Madiun, 27 Mei 2003



Terima kasih telah berkunjung di Asri Yulian Blog yang membahas Contoh Laporan PTK SMP Bahasa Inggris Kelas VII. Semoga PTK Bahasa Inggris ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.

Minggu, 19 Juni 2016

CONTOH PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA SMP LENGKAP

CONTOH PTK PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA SMP LENGKAP- Halooo pembaca semua Saat ini kami  menawarkan kepada para bapak ibu guru yang ingin mendapatkan referensi penelitian tidakan kelas matematika smp. Penawaran ptk smp ini kami berikan dengan harga yang sangat terjangkau, tapi walaupun harganya murah ptk ini lengkap dari cover sampai daftar pustaka. Kondisi laporan PTK Matematika sudah dalam bentuk ms word dan siap untuk di edit.

Jika anda tertarik dengan Contoh PTK Penelitian tindakan Kelas Matematika SMP Lengkap, silahkan menghubungi kami. Kami siap memberikan anda kesempatan untuk melakukan pemilihan judul judul ptk sebelum membeli. Dan kami pun berharap PTK Penelitian Tindakan Kelas Matematika SMP dapat membatu kenaikan pangkat anda.


Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas Mapel Matematika SMP yang diberi judul “Upaya Meningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas Viii-3 Smp Negeri 280 Jakarta , untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam kenaikan tingkat dari IV a ke IV b. Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK Metamatika Kelas 8 SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-42-444-991 dengan Format PESAN PTK 105 SMP).


Contoh PTK Metematika SMP Lengkap


Hasil belajar matematika siswa SMP Negeri masih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Rendahnya hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 280 Jakarta disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah : 1) sebagian siswa masih mengganggap mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit, manakutkan dan membosankan; 2) siswa kurang aktif dan kreatif dalam pembelajaran matematika; 3) guru kurang bervariasi dalam menggunakan pendekatan pembelajaran matematika dan cenderung menggunakan pendekatan konvensional. Laporan PTK SMP Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kontekstual.

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 280 Jakarta, dilaksanakan pada tanggal 20 September sampai 12 Oktober 2004. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) . Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual pada materi Teorema Pythagoras melalui pendekatan konteks bangun kubus dan balok, telah memberikan kenaikan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa. Hal itu ditunjukkan nilai rata-rata pada siklus I nilai rata-rata 6,29 dengan ketuntasan 60,53%, pada silus II nilai rata-rata 6,74 dengan ketuntasan 71,50%, dan pada siklus III nilai rata-rata 7,47 dengan ketuntasan belajar 89,47%. Download PTK SMP.

Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara nyata. Proposal PTK Matematika Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajari, maka pendekatan kontekstual sebagai salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menciptakan pembelajaran aktif inovatif kreatif dan menyenangkan gembira dan berbobot( PAIKEM-GEMBROT).


Kata Kunci: Pembelajaran  Matematika, Pendekatan Kontekstual, hasil Belajar.


Laporan PTK Matematika SMP Kelas 7


A. Latar Belakang Masalah

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin kelihatan nyata. Dengan kesadaran ini, pemerintah dan masyarakat, terutama pendidik, mencurahkan sebagian besar tenaga, dana dan pikirannya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya melakukan perubahan kurikulum, perubahan teknik pengajaran dan penyelenggaraan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan lembaga lain (Kadir dan Ma’sum, 1982, 1991-1992). Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain, (1) meningkatkan kualitas guru SMP/MTs dari lulusan D1 dan D2 menjadi lulusan S1 penyetaraan, (2) mendirikan sekolah-sekolah baru, dan (3) meningkatkan perbaikan proses belajar mengajar dan hasil belajar melalui pelatihan-pelatihan guru SD, SMP, dan SMA.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), materi Teorema Pythagoras yang berbunyi: “Kuadrat ukuran hipotenusa dari segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat ukuran sisi siku-sikunya”, merupakan materi yang diberikan pada siswa SMP/MTs kelas VIII. Seorang guru harus dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswanya sehingga mudah dipahami.

Mengajarkan matematika merupakan suatu kegiatan pembelajaran sedemikian sehingga siswa belajar untuk mendapatkan kemampuan dan ketrampilan tentang matematika. Kemampuan dan ketrampilan tersebut ditandai dengan adanya interaksi yang positif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan (Hudaya, 1988:122). Namun dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan matematika, ternyata masih banyak mengalami hambatan-hambatan baik yang dialami siswa maupun guru. Salah satu hambatan yang terjadi adalah kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika, hal ini disebabkan kurang tepat pendekatan yang dipergunakan serta kurang optimal dalam pengunaan alat peraga yang ada. PTK Guru SMP.

Seperti yang terjadi di SMP Negeri, didapatkan latar belakang siswa sangat bervariasi dalam motivasi belajarnya. Mereka rata-rata dalam belajar tanpa dibekali keinginan untuk memahami konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Mereka kurang dalam mengkaitkan materi satu dengan yang lain. Sehingga yang terjadi mereka kebingungan dan selanjutnya dalam menyelesiakan soal-soal tidak sesuai dengan prosedur.

Salah satu permasalahan yang terjadi di kelas VIII-3 SMP Negeri 280 Jakarta adalah materi Teorema Pythagoras, bentuk-bentuk kesalahan konsep yang sering terjadi seperti:
1.    Diketahui sebuah segitiga siku-siku di B panjang AB = 3 cm, BC = 4.
       Hitung panjang AC.
       Jawaban yang sering dilakukan oleh siswa:
       AC = AB2 + AC2 = 32 + 42 = 9 + 16 = 25
2.  Sebuah tongkat yang panjangnya 26 cm disandarkan pada tembok. Jika jarak ujung tongkat pada tanah ke tembok adalah 10 cm, tentukan jarak ujung tongkat pada tembok ke tanah.

Jawaban siswa:
Panjang tongkat = r, jarak ujung tongkat atas ke tanah = a, dan jarak ujung tongkat bawah ke tembok = b maka: r = a2 + b2 = 262 + 102 = 656 + 100 = 756.
      Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas peneliti ingin memecahkan permasalahan tersebut  dengan melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul: “Upaya Meningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas VIII-3 SMP N”.



B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa ?
2. Kendala apa saja yang ditemui dalam pembelajaran matematika ?
3. Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?
4. Apakah penggunaan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada materi Teorema Pythagoras?
5. Bagaimanakah penggunaan sarana dan prasaran yang optimal dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa ?
6. Seberapa besar kontribusi Pendekatan Kontekstual dalam pencapaian hasil belajar siswa?

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan masalah:
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi masalah hanya pada penerapan pembelajaran kontekstual dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Penelitian Tindakan Kelas. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa pada materi Teorema Pythagoras yang dapat dilakukan dengan pendekatan Kotekstual. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar seperti faktor sosial, ekonomi, lingkungan dan faktor eksternal lainnya tidak dibahas  atau diabaikan.
2. Perumusan masalah
   Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan pada pendahuluan, maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
“Apakah pendekatan kontekstual pada materi Teorema Pythagoras dapat meningkatkan hasil belajar matematika?”

D. Tujuan Penelitian

        Mengacu pendapat yang dikemukakan oleh Suhardjono, (2006:61) penelitian tindakan kelas ini mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum tujuan penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
3. Meningkatkan sikap profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan.
4. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap positif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
Sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, yaitu :
1. Ingin mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran matematika pada kelas VIII-3 SMP Negeri  melalui pendekatan kontekstual.
2. Memperbaiki kualitas pembelajaran.
3. Mengetahui salah satu cara engajarkan materi Teorema Pythagoras di SMP.
   

E. Manfaat Penelitian

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi siswa:
a. Membiasakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.
b. Mengubah pola pikir siswa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan menjadi pelajaran menyenangkan dan mengasyikan serta berguna dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi guru:
a. Untuk memperbaiki metode pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa.
b. Membiasakan guru untuk berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran.
c. Meningkatkan profesionalsme guru melalui penelitian yang dilakukan.

3. Bagi sekolah:
a. Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
b. Untuk meningkatkan kinerja guru.
c. Untuk menigkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
d. Untuk meningkatkan kualitas mutu lulusan sekolah.


Download PTK Matematika SMP Terbaru


A. Hakekat Matematika

Contoh PTK Matematika. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat untuk mendefinisikan apa itu matematika. Walaupun belum ada definisi tunggal menganai matematika, bukan berarti matematika tidak dapat dikenali. Seperti apa yang telah diutarakan oleh Soedjadi (1985:5) sebagai pengetahuan matematika mempunyai beberapa karakteristik, yaitu bahwa obyek matematika tidaklah konkrit tetapi abstrak. Dengan mengetahui obyek penelaahan matematika, kita dapat mengetahui hakekat matematika yang sekaligus dapat diketahui juga cara berfikir matematika oleh E.T. Ruseffendi (1980:148) mengungkapkan: Matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Matematika terdiri dari empat wawasan yang luas yaitu: Aritmatika, Aljabar, Geometri dan Analisa. Selain itu matematika adalah ratunya ilmu, maksudnya bahwa matematika itu tidak tergantung pada bidang disiplin ilmu lain.

Bahasa matematika yang digunakan agar dapat dipahami orang, dengan menggunakan simbol dan istilah yang telah disepakati bersama. Sementara itu Hudoyo (1983:3) secara singkat mengatakan bahwa “Matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan panalaran deduktif.” Matematika SMP kelas 8 Mengenai obyek matematika, Ruseffendi (1980:139) membedakan bahwa obyek matematika terdiri dari dua tipe, yaitu obyek langsung dan obyek tak langsung. Obyek tak langsung adalah hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar, misalnya kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan mentransfer pengetahuan. Sedangkan obyek langsung dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu: fakta, ketrampilan, konsep dan prinsip (aturan).

Hudoyo (1988:97) mengungkapkan bahwa apabila matematika dipandang sebagai suatu struktur dari hubungan-hubungan maka simbol-simbol formal diperlukan untuk menyertai himpunan benda-benda atau obyek-obyek. Simbol-simbol ini sangat penting dalam membentuk memanipulasi aturan yang beroperasi di dalam struktur-struktur.

Pemahaman terhadap struktur-struktur dan proses simbolisasi memberikan fasilitas komunikasi dan dari komunikasi ini kita mendapatkan informasi. Dari informasi-informasi ini dapat membentuk konsep baru. Dengan demikian simbol-simbol bermanfaat untuk kehematan intelektual, sebab simbol-simbol dapat digunakan dalam mengkomunikasikan ide secara efektif dan efisien. Karena itu belajar matematika sebenarnya untuk mendapatkan pengertian hubungan-hubungan dan simbol-simbol serta kemudian mengaplikasikan dalam kehidupan yang nyata.
Dengan demikian hakekat matematika adalah hal-hal yang berhubungan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungannya diatur menurut aturan yang logis.
 

B. Belajar Matematika

Belajar merupakan kegiatan setiap orang. Skripsi PTK Seseorang dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku. Kegiatan atau usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku sendiri merupakan hasil belajar. Karena itu seseorang dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu memang tidak dapat diamati dan berlaku dalam waktu relatif lama. Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar sedang perubahan tingkah laku sendiri merupakan hasil belajar.

Ausebel mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna bila informasi yang akan dipelajari siswa sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya, sehingga siswa dapat mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang dimiliki (Hudoyo, 1990:138). Dalam teori belajar Robert M. Gagne yang diungkapkan Ruseffendi (1980:138) dikatakan bahwa dalam belajar ada dua obyek yang dapat diperoleh siswa, obyek langsung dan obyek tak langsung. Obyek tak langsung antara lain: kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri (belajar, bekerja dan lain-lain), bersikap positif termahadap matematika dan mengerti bagaimana seharusnya belajar. Obyek langsung adalah sebagai berikut:
1. Fakta
    Contoh fakta ialah angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, simbol dan notasi.
2.   Ketrampilan
      Ketrampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan
       cepat. Misalnya melakuka pembagian cara cepat, membagi bilangan
       dengan pecahan, menjumlahkan pecahan dan sebagainya.
3.   Konsep
     Konsep merupakan ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan
      benda-benda (obyek) ke dalam contoh.
4.   Aturan
       Aturan ialah obyek yang paling abstrak, yang dapat berupa sifat, dalil dan
       teori.

Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui orang. Karena matematika merupakan ide-ide yang abstrak yang diberi simbol-simbol maka konsep-konsep matematika harus dipahami lebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol itu. Karena itu untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu akan mempengaruhi proses belajar materi selanjutnya. Sebagai contoh, untuk dapat memahami arti perkalian siswa harus memahami terlabih dahulu apa itu penjumlahan, karena itu penjumlahan harus dipelajari lebih dahulu dari perkalian. Skripsi Metematika Dengan demikian apabila belajar matematika yang terputus-putus akan menganggu terjadinya proses belajar, karena itu proses belajar matematika akan lancar jika dilakukan secara kontinyu.

Dalam proses belajar matematika terjadi proses berfikir. Seseorang dikatakan berfikir bila melakukan kegiatan mental dan orang yang belajar matematika selalu melakukan kegiatan mental. Sehingga dalam berfikir, seseorang dapat menyusun hubungan-hubungan antar bagian-bagian informasi sebagai pengertian, kemudian dapat disusun kesimpulan. Dalam proses itu juga melibatkan bagaimana bentuk kegiatan mengajarnya.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan usaha
manuasia atau makhluk hidup lainnya yang membutuhkan dunia untuk mengembangkan dan melangsungkan hidupnya. Manusia selalu mengandalkan interaksi dengan dunia luar, selalu berusaha untuk menggunakan dan mengubah dunia luar untuk kebutuhan dirinya.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pembelajaran Matematika

     Menurut Herman Hudoyo (1988:6) kegiatan belajar yang kita kehendaki akan bisa tercapai bila faktor-faktor berikut ini dapat dikelola sebaik-baiknya:
1 Peserta didik
Kegagalan atau keberhasilan belajar sangat tergantung kepada peserta didik. Misalnya saja, bagaimana kemampuan dan kesiapannya untuk belajar matematika, bagaimana kondisi si anak, dan kondisi fisiologisnya. Orang yang dalam keadaan sehat jasmani akan lebih baik belajar daripada orang yang dalam keadaan lelah, seperti perhatian, pengamatan, ingatan juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar seseorang.
2.  Pengajar
Kemampuan pengajar dalam menyampaikan materi dan sekaligus menguasai materi yang diajarkan sangat mempengaruhi terjadinya proses belajar. Seorang pengajar yang tidak menguasai materi matematika dengan baik dan kurang menguasai cara menyampaikan dengan tepat dapat mengakibatkan rendahnya mutu pengajaran dan yang kedua dapat menimbulkan kesulitan peserta didik dalam memahami matematika. Akibatnya proses belajar matematika tidak berlangsung efektif.
3.  Sarana dan prasarana
Sarana yang lengkap seperti adanya buku teks dan alat bantu belajar merupakan fasilitas yang penting. Demikian pula prasarana yang cocok seperti ruangan dan tempat duduk yang bersih dan sejuk bisa memperlancar terjadinya proses belajar. Tidak menutup kemungkinan penyediaan sumber lain, seperti majalah tentang pengajaran matematika, laboratorium matematika dan lain-lain akan dapat meningkatkan kualitas belajar.
4.  Penilaian
Penilaian dipergunakan untuk melihat bagaimana berlangsungnya interaksi antara pengajar dan peserta didik. Disamping itu penilaian juga berfungsi untuk meningkatkan kegiatan belajar sehingga dapat diharapkan dapat memperbaiki hasil belajar apabila kurang berhasil. Penilaian juga mengacu pada proses belajar, yang dinilai adalah bagaimana langkah-langkah berfikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Dengan demikian, apabila langkah-langkah penyelesaian masalah benar sedangkan langkah terakhir salah, telah menunjukkan proses belajar siswa baik.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yairu :  peserta didik, pengajar, sarana dan prasarana, penilaian yang kesemuanya itu wsangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.


D. Kesulitan Belajar Matematika


Pada kenyataanya, dalam proses belajar mengajar masih dijumpai bahwa siswa mengalami kesulitan belajar. Kenyataan inilah yang harus segera ditangani dan dipecahkan. Seperti yang telah diuraikan pada Bab I, bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai dengan hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Menurut Soejono (1984:4) kesulitan belajar siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal seperti: fisiologi, faktor sosial, faktor pedagogik. Selain itu, terdapat pula kesulitan khusus dalam belajar matematika seperti:

1. Kesulitan dalam menggunakan konsep
Dalam hal ini dipandang bahwa siswa telah memperoleh pengajaran sautu konsep, tetapi belum menguasainya mungkin karena lupa sebagian atau seluruhnya. Mungkin pula konsep yang dikuasai kurang cermat. Hal ini disebabkan antara lain;
a. Siswa lupa nama singkatan suatu obyek
Misalnya siswa lupa memangkatkan suatu bilangan dengan pangkat     dua.
b.  Siswa kurang mampu menyatakan arti istilah dalam konsep.
Misalkan siswa yang mampu menyatakan istilah kuadrat dan kali dua dan mereka menganggap sama
2. Kesulitan dalam belajar dan menggunakan prinsip
Jika kesulitan siswa dalam menggunakan prinsip kita analisa, tampaklah bahwa pada umumnya sebab kesulitan tersebut antara lain:
a. Siswa tidak mempunyai konsep yang dapat digunakan untuk
mengembangkan prinsip sebagai butir pengetahuan yang perlu.
b. Miskin dari konsep dasar secara potensial merupakan sebab kesulitan
belajar prinsip yang diajarkan dengan metode kontekstual (contoh nyata).
c. Siswa kurang jelas dengan prinsip yang telah diajarkan.
3. Kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal.
Memecahkan soal berbentuk verbal berarti menerapkan pengetahuan yang dimiliki secara teoritis untuk memecahkan persoalan nyata atau keadaan sehari-hari. Keberhasilan dalam memecahkan persoalan berbentuk verbal tergantung kemampuan pemahaman verbal, yaitu kemampuan memahami soal berbentuk cerita dan kemampuan mengubah soal verbal menjadi model matematika, biasanya dalam bentuk persamaan serta kesesuaian penga,ana siswa dengan situasi yang diceritakan dalam soal. Beberapa sebab siswa sulit memecahkan soal berbentuk verbal.

a. Tidak mengerti apa yang dibaca, akibat kurang pengetahuan siswa tentang konsep atau beberapa istilah yang tidak diketahui. Untuk mengecek kebenaran dugaan ini, setelah membaca soal, guru dapat meminta siswa untuk menyatakan pendapatnya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Guru dapat mengecek apakah ada istilah-istilah yang mungkin belum diketahui atau dilupakan. Selain itu juga perlu dipahami, apa yang diketahui dan apa yang dinyatakan serta rumus-rumus apa yang diperlukan.
b. Siswa tidak mengubah soal berbentuk verbal menjadi model matematika dan hubungannya. Kesulitan belajar dapat ditunjukkan dengan beberapa gejala yaitu:
-   menunjukkan prestasi yang rendah
-   hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
-   keterlambatan dalam melaksanakan tugas yang diberikan
Obyek yang dapat kita periksa untuk mengetahui penyebab kesukaran siswa belajar contohnya seperti: (a) materi yang diajarkan dianggap terlalu sulit, (b) pengajarannya yang kurang baik dan dapat disebabkan oleh kesalahan pengajaran dalam menyajikan metode ataupun tidak adanya alat peraga, dan (c) dari siswa sendiri disebabkan karena kelemahan jasmani, kurang cerdas, tidak ada minat, tidak ada bakat, emosi tidak stabil, suasana yang tidak mendukung (Ruseffendi, 1980:333).

E. Belajar Tuntas

Belajar tuntas adalah suatu sistem yang mengharapkan sebagian besar siswa dapat menyelesaikan tujuan pembelajaran dari satuan atau unit-unit pelajaran secara tuntas. Mengenai ketuntasan, siswa yang memperoleh nilai   ulangan   harian   kurang   dari  7,5   perlu   diberikan   remidi dengan menitik beratkan pada materi yang belum dikuasai (Ahmad, 1995:20). Ngadiono (1980:1) menjelaskan bahwa maksud utama belajar tuntas adalah memungkinkan pencapaian minimal 60% untuk ketrampilan dan 75% untuk konsep. Pada belajar tuntas, siswa diharapkan mencapai tingkat penguasaan tertentu terhadap tujuan pembelajaran dari satuan pelajaran tertentu sebelum melanjutkan ke satuan pelajaran berikutnya.

F.    Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL)

1.  Pengertian Pendekatan Kontekstual
Definisi pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Menurut Ahmad Sudrajat (http://abaryans.wordpres.com), dengan konsep ini, hasil materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah, bukan tranfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menganggapinya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih bayak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari ‘menemukan sendiri’, bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Contoh penelitian Tindakan kelas

Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan konduktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum, dalam bidang studi apa saja, dan tidak diperlukan biaya yang mahal. Secara garis besar langkah-langkah pendekatan kontekstual :
a. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d. Ciptakan ‘masyaraat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok).
e. Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran.
f. Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

2. Strategi Pembelajaran Kontekstual
Pengelolaan pembelajaran yang kontekstual dikelola mengacu pada 7 komponen, yaitu (Di. PLP, 2003: 10-20):
a. Pengajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalam belajar dan bagaimana belajar. Tugas guru adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

b. Pembelajaran Kooperatif:
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa). Menurut Abdurrahman dan Bintoro (2000:78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asuh, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Hasil penelitian yang dilakukan Johnson (1984) keunggulan pembelajaran kooperatif yaitu: 1) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, 2) Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati, 3) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri/egois, 4) Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial, 5) Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perpektif, dan 6) Meningkatkan hubungan positif antara siswa terhadap guru dan personil sekolah.  Download PTK Matematika

c. Pembelaaran Berbasis Inkuiri
Pembelajaran dengan penemuan (inquiri) merupakan suatu komponen penting. Bruner (1966), menganjurkan pembelajaran dengan basis inkuiri sebagai berikut: “Kita mengajarkan suatu bahan kajian tidak untuk menghasilkan perpustakaan hidup, tetapi lebih ditujukan untuk membuat siswa berfikir”. Belajar dengan penemuan mempunyai keuntungan: memacu siswa untuk mengetahui, memotivasi siswa untuk menemukan jawaban, dan siswa belajar memecahkan masalah secara mandiri serta memiliki ketrampilan berfikir kritis. Inkuiri adalah seni dan ilmu bertanya dan menjawab, juga menuntut eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan akan keunggulan metode sendiri.

d. Pengajaran Autentik:
Pengajaran autentik yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenalkan siswa untuk mempelajari konteks bermakna, siswa dituntut mengembangkan ketrampilan befikir dan pemecahan maslaah yang penting dalam konteks kehidupan nyata. Untuk memecahkan masalah, siswa harus mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi kemungkinan pemecahannya, memilih dan melaksanakan pemecahan atas masalah tersebut.

e. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas
Hal ini membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dan melaksanakan tugas bermakna. Siswa diberi tugas/proyek yang kompleks, sulit, lengkap, tetapi autentik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya. Tidak memandang apakah tugas harus dikerjakan sebagai pekerjaan kelas atau sebagai pekerjaan rumah.

f. Pengajaran Berbasis Kerja.
Pengajaran berbasis kerja memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan sebagaimana materi tersebut dipergunakan di tempat kerja. Pengajaran berbasis kerja menganjurkan pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif kepada aktifitas sehari-hari di kelas, baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas dan melibatkan siswa dalam kelompok pembelajaran.

g. Pengajaran Berbasis Jasa Layanan
Pengajaran berbasis jasa layanan memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan. Strategi pembelajaran ini berpijak pada pemikiran bahwa semua kegiatan kehidupan dijiwai oleh kemampuan melayani. Untuk itu siswa sejak dini dibiasakan untuk melayani orang lain.
Pada dasarnya siswa lebih mudah belajar pada sesuatu yang kongkrit karena memahami konsep abstrak sulit untuk diterima. Oleh karena itu diperlukan benda-benda konkrit (riil) sebagai perantara atau visualisasinya. Konsep abstrak itu dicapai melalui tingkat belajar yang berbeda-beda. Konsep abstrak yang dipahami siswa akan mengendap, melekat, dan tahan lama bila siswa belajar melalui perbuatan dan pengertian, bukan hanya melalui teori belaka.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah merupakan salah satu pendekatan yang mampu mengatasi permaslahan yang terjadi di kelas VIII.C SMP Negeri 67 Jakarta. Dengan pendekatan kontekstual siswa menjadi lebih aktif, kreatif dalam pembelajaaran sehingga hasil belajar akan meningkat.

Contoh Penelitian Tindakan Kelas Matematik SMP


A. Kesimpulan

 Setelah peneliti cermati selama dalam kegiatan penelitian dari hal proses sampai pada hasil maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut:
1.    Dalam menggunakan metode pembelajaran dengan pendekatan kontekstual hendaknya guru juga memperhatikan pentingnya pengelolaan    kelas. Hal ini demi kelancaran proses pembelajaran. Sebab walaupun dalam pembelajaran sudah menggunakan metode pembelajaran yang baik namun jika dalam mengelola kelas kurang baik, maka proses pembelajaran akan terganggu dan hasilnya kurang memuaskan.
2.    Pembelajaran kontekstual pada materi Teorema Pythagoras dengan menggunakan bangun kubus dan balok, telah memberikan nuansa baru dalam pembelajaran Matematika sehingga pembelajaran lebih efektif. Hal ini terbukti dengan adanya perubahan yang signifikan terhadap ketuntasan belajar siswa. Terlihat pada nilai ulangan siswa yang dilakukan setelah siklus III mencapai nilai rata-rata 7,47 dengan ketuntasan belajar 89,47% dengan demikian pembelajaran kontekstual berhasil.

B. Saran-saran

       Setelah mengetahui hasil dan kesimpulan selama penelitian berlangsung di SMP Negeri 280 Jakarta, peneliti memberikan saran antara lain:
1.   Seorang guru hendaknya trampil dan dapat menguasai berbagai metode                  pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran.
2.   Seorang guru harus selalu aktif melibatkan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
3.    Seorang guru harus dapat memilih metode dan kreatif dalam mencoba ide baru agar proses pembelajaran berhasil dengan baik dan tidak membosankan.
4.    Hendaknya guru selalu memotivasi siswa untuk selalu belajar di rumah materi yang akan dibahas  pada pertemuan berikutnya supaya dalam pembelajaran siswa mempunyai gambaran materi.
 5.   Perlunya kolaborasi dengan guru yang lain di dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui   Penelitian Tindakan Kelas.
6.    Kepala Sekolah hendaknya memfasilitasi kegiatan Penelitian Tindakan Kelas yang dituangkan  dalam Program Kerja Sekolah.



DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. ED Rev. Jakarta :
                                           Bumu Aksara.
-------------------------- . 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Bumi Aksara
Wardani Sri, 2005. Pembelajaran Matematika Kontekstual Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika Yogyakarta: PPG Matematika
Adiawan, M, Cholik dan Sugiono. 2003. Matematika Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta: Erlangga.
Djumanta, Wahyudi. 1994. Matematika Untuk SLTP Kelas II. Jakarta: Multi Trust.
Hudoyo. 1988,  Strategi Mengajar Belajar Matematika, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Soedjadi. 1985,  Matematika 2 Petunjuk Guru SLTP Kelas 2, Jakarta : Balai Pustaka.
Nurhadi dan Sentuk, Agus, Gerrad. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: UM Press.
Ruseffendi, E.T. 1980. Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG. Bandung: Tarsito.
Soejono. 1984. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Sudrajat Ahmad, Tujuh Komponen Dalam CTL: http://abaryans.wordpres.com. diakses tanggal 20 September 2007.
Model Pembelajaran Kontekstual (http://www.google.co.id/d&q=Pendekatan+Kontekstual) diakses pada tanggal         20 Septembe 2007






Terima kasih telah berkunjung di Asri Yulian Blog yang membahas Contoh PTK Penelitian tindakan Kelas Matematika SMP Lengkap. Semoga PTK IPS Terpadu (Ekonomi) ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.

CONTOH PTK SENI RUPA SENI BUDAYA SMP KELAS 8

CONTOH PTK SENI RUPA SENI BUDAYA SMP KELAS 8-Halo pembaca semua yang setia dengan blog Asri Yulian mari kita bahas permasalahan yang sering timbul dalam pembelajaran seni rupa dan seni budaya di SMP  adalah keluhan anak karena rumitnya garis yang membalut bentuk benda. Guru terkesan tidak mengindahkan kemampuan siswa maka dibutuhkan  model penelitian tindakan kelas seni rupa dan seni budaya smp dalam hal pengamatan gambar perspektif. PTK SMP  Kelas 8 seni rupa tidak jarang, pembelajaran ini sering ditinggalkan begitu saja oleh guru yang bersangkutan dengan alasan demi terkondisinya pelajaran seni budaya dan seni rupa untuk itu CONTOH PTK SENI RUPA SENI BUDAYA SMP KELAS 8  dijadikan cara untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman peserta didik dalam memahami seni rupa dan  seni budaya. 


Penelitian tindakan kelas (PTK) SMP untuk mengkaji dan merefleksikan secara mendalam yang terjadi pada proses pembelajaran Seni rupa dan seni budaya SMP kelas 7, 8, dan 9. Semua itu untuk menjawab permasalahan penelitian tindakan kelas Seni rupa dan PTK seni budaya.


Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas Mapel Seni Rupa SMP yang diberi judul “Laporan Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Kreatifitas Belajar Seni Rupa Kelas Viii/B Smpn......... Melalui Praktek Berkarya Seni Patung Dengan Teknik Carving, untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam kenaikan tingkat dari IV a ke IV b. Disini akan di bahas lengkap.


PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK Seni Rupa Kelas 8 SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-42-444-991 dengan Format PESAN PTK 63 SMP).


PTK Seni Rupa Kelas 8 SMP

A. Latar Belakang Masalah


Seni patung adalah karya seni rupa tiga dimensi yang berfungsi sebagai sarana hiasan. Karya seni tersebut berkembang sejak mulai jaman purba, primitif, klasik, kontemporer. Karya seni patung modern saat ini mulai berkembang pesat seiring dengan kebutuhan dalam mengarungi perubahan gaya hidup di lingkungan kita contoh ptk seni budaya.

Dalam memahami teknik pembuatan, fungsi dan tujuan pembuatan seni patung ini perlu diketahui oleh masyarakat atau siswa. Karya seni tiga dimensi yang bentuknya menyerupai patung juga berkembang pesat di zaman modern. Karya seni rupa 3 dimensi patung khususnya memiliki teknik pembuatan yang berbeda-beda contoh ptk seni rupa.

Untuk itu peneliti akan membahas pembuatan patung dengan teknik carving dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi siswa SMP kelas VIII/B dalam upaya meningkatkan kreatifitas bagi siswa ptk seni rupa smp. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi saat ini maju pesat. Proses pembuatan dan proses informasi berkembang pesat seiring dengan perkembangan zaman mobil, sepeda motor, robot, alat-alat berat dan ringan adalah buah dari perkembangan seni patung di zaman modern.

Situasi tersebut di atas menuntut pada guru seni rupa SMPN melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berkualitas.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka identifikasi masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :
1. Seni patung adalah karya seni rupa tiga dimensi yang teknik pembuatannya beraneka ragam.
2. Dalam perwujudannya seni patung dengan teknik carving adalah yang paling disukai sebab mudah didapat alat dan bahannya dalam mewujudkan kreatifitas contoh penelitian tindakan kelas bagi siswa.

C. Pembatasan Masalah

1. Dalam upaya meningkatkan kreatifitas dan prestasi siswa pembuatan karya seni rupa tiga dimensi perlu dilakukan.
2. Jenis karya seni rupa tiga dimensi yang dibuat siswa ada seni patung
3. Seni patung yang dibuat siswa adalah menggunakan teknik carving
4. Hasil penelitian PTK ini diambil dari tes tertulis dalam bentuk angket dan hasil kegiatan praktek berkarya.

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah menurut Suharsini Arikunto (2006 : 143) adalah problem statement (formulation) yaitu rumusan masalah dalam kalimat pertanyaan sedemikian sehingga terlihat unsur-unsur (who, what, where, when, how much/many).
Dari batasan masalah diatas peneliti memberikan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Kreatifitas jenis karya tiga dimensi apakah yang dilakukan siswa kelas VIII/B SMPN.
2. Dengan menggunakan teknik apakah siswa mewujudkan kualifitasnya.

E. Tujuan Penelitian

Menurut pendapat Suharsini Arikunto (2006 : 143) : “Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) agar diuraikan tujuan penelitian yang ingin dicapai (umum dan khusus) sehingga tampak jelas indikator keberhasilannya. Indikator keberhasilan itu perlu ditulis karena akan menjadi target tindakan yang akan dilakukan”. Tujuan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk meningkatkan kreatifitas bagi siswa.
2. Untuk meningkatkan prestasi pendidikan seni rupa patung menggunakan teknik carving.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat penelitian bagi siswa adalah untuk meningkatkan kreatifitas dalam penciptaan karya yang inovatif.
2. Manfaat penelitian tindakan kelas bagi guru adalah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan serta dalam upaya pengembangan pengajaran selanjutnya.
3. Sebagai wacana para pembaca dalam memahami seni rupa patung beserta teknik proses pembuatannya.

Contoh PTK Seni Rupa SMP

A.Pengertian Seni Patung

Menurut Soenarso dan Soeroto dalam bukunya kerajinan tangan dan seni rupa (1992 : 6) : “Patung adalah semua karya dalam bentung dan ruang”. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia : patung adalah benda tiruan, bentuk manusia dan hewan yang cara pembuatannya dipahat. Contoh PTK (penelitian tindakan kelas) Seni Rupa SMP.

Menurut pendapat Sulehan Yann dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia hal 275 : “Patung adalah tiruan atas benda sesungguhnya dengan menggunakan kayu, batu atau sejenisnya”.
Menurut FX Sutomo, Sutadi dan Sutejo Budi dalam bukunya kerajinan tangan dan kesenian SLTP 2 : 105 : “Karya seni rupa tiga dimensi yang punya ukuran panjang lebar dan tebal memiliki volume d
apat dilihat, diraba dan dinikmati dari berbagai arah”.

Menurut pendapat Sugiyanto (2006 : 57) “Patung adalah karya seni rupa tiga dimensi yang memiliki volume dan isi”. Contoh PTK Seni Budaya Kelas 9

B. Fungsi Patung

Pada zaman dahulu dibuat untuk kepentingan keagamaan. Pada zaman Mesir kuno orang membuat patung untuk disembah. Pada perkembangan selanjutnya patung banyak dibuat untuk kepentingan monumen yaitu untuk memperingati peristiwa atau kebesaran suatu bangsa. Apabila kita ingat patung yang ada di lubang buaya 7 jenderal, patung Sukarno Hatta dan patung pembebasan Irian Barat. Patung juga difungsikan untuk menghias taman. Secara umum fungsi seni patung tidak terlepas dari tujuan diciptakannya patung. Laporan PTK SMP.


C. Tujuan Pembuatan Patung

Menurut pendapat Sugiyanto (2004 : 58) :
Tujuan pembuatan patung adalah :
1. Patung religi : sebagai sarana untuk ibadah religi.
2. Patung monumen : untuk memperingati jasa seseorang, peristiwa yang terjadi.
3. Patung arsitektur yaitu patung yang ikut aktif berfungsi dalam konstruksi bangunan.
4. Patung dekorasi : untuk menghias bangunan.
5. Patung seni : patung yang diciptakan untuk mengamati keindahan bentuknya.
6. Patung kerajinan : patung hasil karya kerajinan.

D. Corak Patung

Di Indonesia pada masa lampau sudah dikenal patung primitif seperti yang terdapat di Irian Jaya (Asmad) dan Sulawesi Selatan (Toraja). Menurut pendapat Musoiful Faqih M (2004 : 59) : “Pada masa Hindu-Budha patung klasik terutama berkembang di Jawa dan Bali. Karya patung primitif dan klasik secara tradisional berlangsung turun temurun hingga sekarang. Selanjutnya primitif dan klasik disebut corak tradisional sedangkan patung di luar primitif dan klasik disebut patung yang bercorak modern”. PTK SMP Lengkap.
Dilihat Dari perwujudannya, ragam seni patung modern dapat dibedakan menjadi tiga :
1. Corak Imitatif
2. Corak Deformatif
3. Corak Non Viguratif
1. Corak Imitatif (Realis / Representatif)
Corak ini merupakan tiruan dari bentuk alam (manusia, binatang dan tumbuhan). Perwujudannya berdasarkan fisio plastis atau bentuk fisik baik anatomi proporsi, maupun gerak. Patung corak realis tampak pada karya Hendro, Trubus, saptoto dan Edy Sunarso.
2. Corak Deformatif
Patung corak ini bentuknya telah banyak berubah dari tiruan alam. Bentukbentuk alam digubah menurut gagasan imajinasi pematung. Pengubahan dan bentuk alam digubah menjadi bentuk baru yang keluar dari bentuk aslinya. Karya ini tampak pada karya But Mochtar G Sidarta.
3. Corak Nonfiguratif (Abstrak)
Patung ini secara umum sudah meninggalkan bentuk-bentuk alam untuk perwujudannya bersifat abstrak PTK Seni Rupa.

E. Ragam Patung

Penampilan patung bermacam-macam jenisnya. Hal ini dapat kita saksikan di rumah, di taman atau di museum. Jenis karya patung dapat dibedakan menjadi tiga yaitu patung dada, patung torso, patung lengkap. Menurut Dyah Purwani Seytaningsih (2004 : 60;61) ragam patung adalah :
1. Patung Dada
Yang dimaksud dengan patung dada adalah penampilan karya patung sebatas dada hingga ke atas atau bagian kepala.
2. Patung Torso
Torso disebut juga badan. Patung torso adalah penampilan karya patung yang hanya menampilkan bagian badan, dari dada, pinggang dan panggul.
3. Patung Lengkap
Penampilan karya patung lengkap maksudnya terdiri dari badan, anggota badan bagian atas dan bagian bawah, serta kepala.

F. Media Karya Patung

Menurut Sugianto (2004 : 61) media karya patung adalah : “Kalau kita akan membuat patung kita harus mempelajari dahulu tentang media berkarya patung. Yang dimaksud dengan media adalah bahan, alat dan teknik. Media berkarya patung adalah bahan, alat dan teknik yang digunakan dalam berkarya patung”.
1. Bahan
Pengetahuan akan bahan dalam berkarya patung amat penting karena setiap bahan memiliki sifat tertentu yang mempengaruhi hasil akhir karya yang dibuat. Pengetahuan itu meliputi apa dan bagaimana bahan tersebut.
Oleh karena itu, mari kita bahas tentang bahan-bahan dalam berkarya patung. Bahan patung dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu lunak, sedang dan keras.
a. Bahan Lunak
Yang dimaksud bahan lunak adalah material yang empuk dan mudah dibentuk. Misalnya tanah liat, plastisin dan sabun. Bahan tanah liat untuk patung memang mudah didapat, namun tidak sembarang tanah liat baik untuk dibuat patung. Tanah liat yang baik untuk membuat patung harus memenuhi persyaratan, antara lain bersih dari kerikil, rumput, akar dan sebagainya. Selain itu daya susut tanah tidak lebih dari 10%, sehingga kalau kering nantinya tidak pecah atau hancur. Keadaan tanah liat juga harus cukup plastis, artinya mudah dibentuk, tidak terlalu lembek atau terlalu keras.
Untuk bahan plastisin (lilin) dapat diperoleh di toko. Tingkat plastisitas lilin bermacam-macam, ada yang sangat lembek, cukup lembek dan agak lembek. Lilin yan sangat lembek sulit untuk dibentuk. Bahan sabun mudah dibentuk, akan tetapi ukuran sabun yang ada dipasaran sangat kecil, baik itu sabun mandi atau sabun cuci batangan sehingga sulit bila kita hendak membuat karya yang berukuran besar.
b. Bahan Sedang
Bahan sedang artinya tidak lunak dan tidak keras. Yang termasuk bahan sedang antara lain kayu waru, kayu sengon, kayu randu dan kayu mahoni. Pembuatan patung dengan kayu biasanya dari bentuk gelondongan (batangan) bukan dari bentuk papan. Oleh karena itu, sebelum membuat patung hendaknya mempersiapkan bahan sesuai kebutuhan.
c. Bahan Keras
Bahan keras dapat berupa kayu atau batu-batuan. Bahan keras kayu contohnya kayu jati, kayu sonokeling dan kayu ulin. Bahan batu-batuan antara lain batu padas, batu kranit, batu andesit dan batu pualam (marmer).
Selain bahan-bahan tersebut di atas masih ada bahan yang dapat dipergunakan untuk membuat patung, yaitu semen, pasir, gips, kuningan, perunggu, emas dan sebagainya.
2. Alat
Peralatan yang dipergunakan untuk membuat patung tergantung kepada bahan dan tekniknya. Adapun alat yang dipergunakan untuk membuat patung adalah sebagai berikut :
a. Butsir
Butsir adalah alat bantu untuk membuat patung yang terbuat dari bahan kayu dan kawat. Bentuknya sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sesuai dengan bentuknya masing-masing. Panjangnya antara 10 cm hingga 15 cm. Butsir digunakan untuk membuat bentuk dari tanah liat.
b. Meja Putar
Yang dimaksud dengan meja putar adalah meja untuk berkarya patung dan dapat digerak-gerakkan dengan cara memutar. Fungsinya untuk memudahkan dalam mengontrol bentuk dari berbagai arah.
c. Pahat
Pahat jenisnya ada dua, yaitu pahat ukir untuk kayu dan pahat untuk batu. Pahat ukir bentuknya bervariasi, terdiri dari pahat kuku (lengkung), pahat pengikat (lurus), pahat pengot dan pahat kol. Satu set pahat ukir jumlahnya ± 32 buah.
Pahat untuk batu disebut betel. Bentuknya lurus tebal, jumlahnya lebih sedikit.
d. Palu
Palu merupakan alat pelengkap pahat. Pahat tanpa palu tidak dapat berfungsi dengan baik. Palu untuk pahat ukir terbuat bahan kayu sawo atau kayu jambu biji. Palu dari bahan kayu disebut gandhen. Gandhen dibuat dari kayu agar tidak merusak pahat. Palu untuk pahat betel terbuat dari besi atau disebut martil. Palu martil lebih kiat tekanannya, sehingga seringkali merusak bagian pangkal pahat betel.
e. Cetakan
Cetakan terbuat dari bahan gips. Kegunaannya untuk mencetak karya patung dari bahan cair. Bentuk cetakan tergantung kepada model cetakan. Alat cetakan sedikitnya terdiri dari dua bagian dan diberi pengunci.
f. Kakatua
Alat ini terbuat dari besi dan terbentuk seperti paruh burung kakatua. Kegunaannya untuk mengencangkan ikatan kawat dan memotong kawat.
g. Senduk Adonan
Senduk ini terbuat dari besi dan kayu. Bentuk senduk cukup lebar dengan tangkai dari kayu. Kegunaan alat ini untuk mengambil adonan dan menempelkannya pada kerangka patung.
G. Teknik Pembuatan Patung
Yang dimaksud teknik adalah cara-cara melakukan sesuatu. Teknik pembuatan patung dibedakan menjadi empat yaitu : teknik membutsir, teknik memahat, teknik mencetak dan teknik konstruksi.
a. Teknik Membutsir
Membutsir yaitu membuat patung dengan cara memijit, menambah dan mengurangi bahan yang dibentuk, dengan dibantu alat butsir. Membuat patung dengan cara membutsir biasanya mempergunakan bahan tanah liat atau plastisin. Teknik membutsir lebih didominasi dengan kegiatan memijitmijit, menambah atau mengurangi bahan. Sedangkan butsir berfungsi sebagai alat bantu untuk mencapai bentuk yang diinginkan.
b. Teknik Memahat / Carving
Berbeda dengan teknik membutsir yang dapat dilakukan dengan memijit, menambah dan mengurangi, dalam teknik memahat hanya dapat dilakukan pengurangan. Biasanya yang dipahat bahan yang cukup padat seperti kayu atau batu. Dalam teknik memahat tidak bisa dilakukan penambahan atau penambalan. Oleh karena itu, dalam memakai teknik ini hendaknya lebih cermat dan tepat. Untuk menghasilkan pahatan yang bagus, ketajaman mata pahat perlu diperhatikan.
c. Teknik Mencetak
Teknik mencetak ada dua macam yaitu cetak tekan dan cetak tuang (cor). Dalam membuat patung dengan teknik mencetak biasanya digunakan teknik cetak tuang atau cor. Bahan yang dipergunakan untuk teknik ini umumnya cair atau bahan yang dapat dicairkan. Misalnya semen, gips, fiberglass, perunggu atau emas. 
Proses mencetak meliputi beberapa tahapan, seperti : menyiapkan alat cetak (cetakan), menyiapkan bahan yang sudah dicairkan, menuangkan bahan pada cetakan hingga penuh, menunggu bahan sampai padat (mengkristal), kemudian membuka cetakan yang dilanjutkan dengan menghaluskan hasil cetakan.
d. Teknik Konstruksi
Konstruksi artinya bangunan atau susunan. Teknik konstruksi adalah membuat patung dengan cara menyusun bahan, baik dengan kerangka ataupun tanpa kerangka. Cara menyusunnya dapat direkatkan dengan lem, dilepa, atau dilas/dipatri.
Bahan yang dipergunakan dapat berupa semen, pasir, kawat, besi, plastisin, bubur kertas, atau bahan bekas.
Teknik Pembuatan Patung
Menurut Suparjo (LKS Seni Rupa (2006 : 14)) berpendapat bahwa teknik pembuatan patung adalah :
1. Teknik Butsir (modeling)
Membentuk patung dengan cara menambah dan mengurangi dengan menggunakan bahan lunak seperti tanah liat, malam (lilin), dll.
2. Teknik Pahat (carving)
Pembuatan patung dengan cara mengurangi bahan dengan cara mencukil, memotong, menoreh, memahat dan melubangi bahan keras dengan alat utama pahat. Misalnya : kayu, batu, dll.
3. Teknik Cetak (casting)
Pembuatan patung dengan bahan dasar yang dicairkan lebih dulu kemudian dituang dalam cetakan berongga. Misalnya : emas, kuningan, perunggu, fiberglass, dll.
4. Teknik Sambung (constructing)
Pembuatan patung dengan cara menyambung benda-benda keras baik dengan cara diikat, dipaku ataupun dilas. Misal dari logam, potongan kayu, benda-benda bekas, dll.
5. Teknik Plester
Pembuatan patung dengan cara menempel/ mengoleskan bahan menggunakan bahan campuran semen dan pasir. Pembuatannya terlebih dahulu harus membuat kerangka dari kawat/ besi beton.

H. Gaya Patung Diantaranya Adalah :

Menurut buku Yudistira untuk SLTP kelas 2 gaya patung diantaranya adalah :
1. Gaya klasik
2. Gaya magis monumental
3. Gaya simbolis

I. Nilai Pada Seni Patung

Menurut FX. Sutomo, S.Pd. Sutadi, BA, Setyo Budi, S.Pd., dalam buku kerajinan tangan dan kesenian SLTP 2 penerbit Bina Pustaka Tama Surabaya halaman 108 patung juga mempunyai nilai, nilai yang terdapat pada patung antara lain :
1. Nilai estetis
2. Nilai ekonomi
3. Nilai kebangsaan
Nilai estetis patung timbul karena dibuat dengan ungkapan jiwa yang halus, bahan dan teknik yang baik, sehingga menjadikan karya patung menarik dan indah. Karya patung indah bentuknya dikatakan memiliki nilai estetis.
Nilai ekonomi patung timbul jika patung yang dibuat oleh seniman diminati orang dan mendatangkan uang. Semakin baik dan semakin tinggi kualitas karya yang dibuat semakin banyak nilai uangnya sehingga mendatangkan keuntungan dan dapat meningkatkan kesejahteraan. Nilai kebangsaan timbul karena patung yang dibuat oleh seniman asal pulau Bali/ Suku Asmat Irian Jaya, tentu mempunyai corak dan ciri khas budaya lingkungannya. Bila patung dari daerah tersebut berada di mancanegara, maka patung tersebut akan mempunyai nilai kebangsaan. 
Maksudnya ciri seni budaya yang terdapat pada patung tersebut akan menunjukkan citra bangsa.

J. Model Patung

Menurut LKS Wajar Kertangkes untuk kelas 2 semester genap, patung dibedakan atas :
a. Free standing
Yaitu patung yang dibuat utuh dari kaki hingga kepala dalam posisi berdiri tegak.
b. Zonde
Patung dibuat secara utuh dan lengkap dengan posisi tidak berdiri, melainkan duduk bersila, jongkok, menunduk, tiarap dan lain-lain.
c. Boos atau dada
Pada umumnya patung dibuat setengah badan saja.
d. Torso
Patung yang dibuat hanya bagian-bagian badan. Misalnya : badan, kaki, kepala dan lain-lain.

K. Ukuran Patung

Berdasarkan ukurannya, patung diklasifikasikan atas :
a. Heroik atau kepahlawanan
Patung jenis ini biasanya dibuat setengah ukuran dari ukuran sebenarnya.
b. Colosal (kolosal)
Ukuran patung sangat besar. Misalnya : patung Budha di Jepang, patung Liberty di New York, patung-patung presiden Amerika Serikat yang dipahat di suatu pegunungan.
c. Patung Xiulet (miniature) Amulet :
Patung ini berukuran 2 cm ½ meter (50 cm). Patung yang dibuat dengan ukuran kecil.
Menurut LKS Kertakes Wajar kelas 2 Penerbit Graha Pustaka. Menurut jenisnya patung dibedakan menjadi :
1. Patung Jenis Imajinatif
Jenis patung yang sengaja dibuat secara imajinatif (khayalan) abstrak/ tidak nyata.
2. Patung Jenis Figuratif
Patung yang sengaja dibuat dan disesuaikan dengan benda yang ada, atau yang dilihatnya.

L. Membuat Patung

Membuat Seni Patung Siklus I
1. Patung Bahan Lunak
Patung dari bahan lunak biasanya mempergunakan bahan tanah liat dan lilin. Teknik membuatnya dengan cara membutsir. Adapun langkah-langkah pengerjaannya sebagai berikut :
a. Siapkan tanah liat atau plastisin
b. Siapkan alat Bantu butsir dan air
c. Siapkan meja putar (kalau ada)
d. Siapkan gambar rancangan patung
e. Tempatkan tanah liat atau plastisin di atas meja putar sedikit demi sedikit.
f. Pijat-pijat bahan hingga mendekati bentuk yang diinginkan bisa global.
g. Jika bahan kurang bisa ditambah, sebaliknya bila berlebih bisa dikurangi
h. Sempurnakan bentuk dengan alat bantu butsir
i. Berikan sentuhan akhir dengan pembentukan detail patung dan dihaluskan
2. Patung Sabun
Patung dari bahan sabun dikerjakan dengan teknik memahat. Alat yang diperlukan adalah pahat ukir dan palu kayu (gandhen). Cobalah membuatnya dengan langkah-langkah berikut ini :
a. Langkah 1
Siapkan sabun sesuai dengan ukuran pola yang kita gambar.
Pindahkan gambar/pola di atas permukaan kayu. Gambar pola pada kayu kelihatan dari semua sisi (atas, bawah, samping kiri, kanan, depan, belakang).
b. Langkah 2
Berilah solatip melingkar pada balok. Selotip ini berfungsi sebagai pengikat jika dilakukan pemotongan/ sambungan. Tetapi, jika dipahat langsung tidak perlu menggunakan solatip.
c. Langkah 3
Lakukan pemotongan dengan menggunakan gergaji dari empat sisi/pisau.
Pembentukan sedikit demi sedikit hingga mendekati bentuk global.
d. Langkah 4
Buatlah bentuk global
Bandingkan dengan gambar/pola. Usahakan mendekati bentuknya
Gosoklah dengan menggunakan kertas gosok atau amplas
Penggosokan dilakukan dengan dua tahap :
Menggunakan amplas no. 150
Menggunakan amplas no. 250 atau 400
e. Langkah 5
Lanjutkan dengan membuat detail bentuk paruh, kepala, sayap dan ekor.
Haluskan dengan amplas lagi.
f. Langkah 6
Difinishing dengan menggunakan cat akrilik atau melamin.
Catatan :
Pada proses membentuk dengan teknik memahat, urutan atau langkahlangkah terinci antara jenis benda/patung yang satu dengan yang lain berbeda, tergantung tingkat kesulitasn dari jenis petung yang dibuat.

PTK Seni Rupa dan Seni Budaya Kelas 7

Pada bagian ini secara berturut-turut yang didasarkan dari penelitian tindakan kelas, dari kajian teoritik, praktek pengolahan data serta saran-saran yang didasarkan pada kesimpulan.

A. Kesimpulan

Sehubungan dengan masalah penelitian yang diajukan maka dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini adalah :
1. Ada peningkatan prestasi dalam pembuat patung teknik carving
2. Ada motivasi dalam mewujudkan karya.
3. Ada peningkatan kreatifitas bagi siswa.

B. Implikasi

Dengan penelitian ini, para pendidik baik itu guru ataupun calon guru dalam upaya meningkatkan prestasi dan selanjutnya dapat digunakan sebagai gambaran akan pentingnya penelitian tindakan kelas sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi kreasi dan penciptaan karya yang inovatif dalam pembuatan karya seni patung teknik carving.

C. Saran-Saran

Berdasarkan implikasi di atas ada beberapa hal yang perlu peneliti sarankan demi peningkatan kualitas pembelajaran (seni rupa) seni patung khususnya sebagai berikut :
1. Perlunya diadakan pameran seni patung di sekolah untuk meningkatkan prestasi dan kreatifitas bagi siswa.
2. Perlunya ada perhatian dan dukungan yang maksimal bagi guru seni rupa dalam hal pengadaan alat dan bahan atau pembiayan.
3. Orang tua hendaknya mendukung kegiatan sekolah demi peningkatan keberhasilan putra-putrinya disekolah.

DAFTAR PUSTAKA


Sugianto, 2004. Kesenian SMP. Jakarta. Erlangga
Suharsini Arikunto, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. PT. Bumi Aksara
Suparjo, 2006. Aku Siap Hadapi EBTA Tulis Seni Rupa. SMPN 2 Ngawi
Soedomo Notoadiwidjojo, 1975. Seni Rupa SMP. Surabaya
Eddi Sukaryono, 1975. Pendidikan Seni Rupa. Surakarta, Widya Duta
Sunarso, Suroto, 1992. Pendidikan Seni Rupa. Surakarta. Widya Duta
Sugiyanto, 2004. Kesenian SMP. Jakarta. Erlangga
Dyah Purwani Setyaningsi, 2004, Kesenian. Jakarta. Erlangga
Suparjo. 2004. LKS Seni Rupa. SMPN 2 Ngawi
Fx Sutomo, 1980. Kesenian SLTP. Surabaya. Bina Pustaka Tama



Terima kasih telah berkunjung di Asri Yulian Blog yang membahas Contoh PTK Seni Rupa Seni Budaya SMP Kelas 8. Semoga PTK Seni Rupa ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.